Ibu-ibu Simpatisan PWK PKS Turut Berbagi untuk Merapi

by : hida nur hidayah
Pertemuan rutin dua pekanan ibu-ibu Pos Wanita Keadilan (PWK) di dusun Munggang Sitimulyo Piyungan kali ini menoreh haru yang tak biasa. Rencananya, sore itu akan diisi pelatihan membuat ayam kribo, eh ayam kentucky. Akan tetapi Sabtu pagi kemarin (6/11) dua orang Ibu-ibu datang ke rumah saya, mengusulkan sebagai wujud solidaritas atas bencana, mereka minta pelatihannya ditunda. Uangnya dikumpulkan dan ditambah munashoroh anggota PWK lalu disumbangkan ke daerah bencana.

Subhanalloh, bagaimana saya tidak haru mendengarnya. Pada point ini, teori ukhuwah mereka tak lagi salamatush shodr, tapi meloncat tinggi menuju titik tertinggi ukhuwah, yaitu itsar. Mereka tak perlu ta’aruf kepada siapa yang bakal menerima bantuannya.

Seperti yang khalayak umum sudah tahu, Merapi yang erupsi dalam kurun waktu beberapa hari terakhir membuat cerita yang luar biasa. Apalagi masyarakat disuguhi berita live di televisi yang selalu up date setiap jam. Dan mereka pernah merasakan hal serupa saat menjadi korban gempa Jogja 2006.

Sabtu itu pula saya mengabarkan via sms kebeberapa ibu yang mempunyai HP bahwa hari Ahad, 7 November 2010 DPC PKS Piyungan akan mengirim nasi bungkus dan bantuan lainnya ke posko induk PKS Peduli Merapi DPD PKS Sleman yang akan mengkoordinir pendistribusian nantinya.

Saya awalnya ragu, karena Kamis kampung saya sudah swadaya mengirim nasi bungkus juga. Tapi Bismillah, dengan nama Alloh saya tepis keraguan itu. Hasilnya, luar biasa. Ahad pagi (7/11) jam 10 terkumpul 165 bungkus nasi dari ibu-ibu PWK Munggang, satu kresek baju layak pakai yang kemudian diambil Pak Mujiran (yang kena chikunguya bersama keluarganya dan masih linu-linu katanya---syafakalloh pak--) untuk kemudian dijadikan satu di Kantor DPC PKS Piyungan.

---

Ahad sore (7/11) di Ta’lim PWK....

Sambil menunggu kehadiran peserta yang lain, ibu-ibu sibuk ngobrol....

“Kita harus lebih syukur ya bu, dulu waktu Bantul kena gempa -- rumah dan isinya masih bisa diambil sisanya. Lha mereka korban Merapi hancur lebur harta bendanya. Mengungsi didaerah yang asing dan jauh dari tempat tinggalnya…”, kata bu Sartiyah

“Di pengungsian juga dikejar bencana. Mereka sudah tiga kali pindah tempat. Pasti stress …”, sambung bu Midah.

“Merapi menjadikan rakyat Sleman tahu bahwa mereka mempunyai stadion bertaraf internasional yang dibangun dari keringat mereka juga. Kalau tidak ada kejadian seperti ini mereka tidak pernah memasukinya, mungkin juga belum pernah mendengarnya…”, yang ini kata penulis (hehehe…..)

“Ayo kita sisihkan sedikit uang kita, ngge nambahi kas kita biar pantes dibelikan barang untuk dikirim kesana…”, sambut yang lain.

“Dulu kita masih punya gubuk. Saat ada bantuan sisanya bisa kita simpan. Lha mereka mau nyimpan dimana, wong suk-sukan gitu di pengungsian..”, imbuh yang lain.

Obrolan selanjutnya tidak penting lagi, kemudian saya tutup dengan mengutip kata Mbah Rono di televisi kemarin yang menurut saya cukup bijak dan bisa diresapi dalam segala kondisi.

“Merapi telah memberikan banyak hal dan hanya mengambil sedikit saja. Merapi telah memberikan kesuburan pada kebun dan sawah, pasir, batu, wisata, peternakan-peternakan, timbunan air yang luar biasa. Bencana ini hanya sementara, bersabarlah…..”

Dusun Munggang dilewati sungai yang merupakan jalur dari sungai atau kali kuning. Masyarakat disini menikmati berkahnya, melalui air jernih yang tak pernah kering, batu dan pasir yang dijadikan sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat dan pemandangan yang indah saat mentari bersinar cerah.

“manusia, sebagaimana dalam QS Al Ma’arij 19-21 susah bersyukur. Saat flu dua hari saja mengeluhnya luar biasa, lupa bahwa dia berhari-hari, berbulan-bulan merasakan nikmat sehat………bla bla………", sambung penulis.

Jam rumah Mbak Endar tempat acara PWK menunjukkan pukul 16.00. Tadarusan dimulai dan diakhiri dengan pengajian oleh Bu Titik.

---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Comments