Iklan Cerdas PKS Berdampak Cadas

Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memanfaat situasi kisruh eksternal. Mereka mencela cakak banyak elit politik dalam iklan bertajuk ‘PKS untuk Indonesia’. Parpol lain tersedak. Mereka menuding PKS melakukan kampanye hitam dan menggugat.

Hiruk pikuk politik dalam dua pekan terakhir ini ternyata mendapat perhatian khusus oleh PKS. Kontroversi soal rumor ABS, Sultan versus JK, Mega versus SBY, dirangkum PKS dengan baik. Bentuknya, ya ‘PKS untuk Indonesia’. Iklan PKS tampak cerdas meski berdampak cadas bagi sebagian kelompok.

Iklan politik terbaru PKS menjadi iklan pertama dengan menampilkan kumpulan kliping media cetak maupun elektonik yang sengaja dipilih dan dirangkum. Materi klipingnya pun sangat spesifik: perihal konflik para elite politik.

Ketua FPKS DPR Mahfudz Siddiq menyebutkan, iklan politik terbaru PKS sebagai upaya PKS memberi pesan ke publik bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan kepala dingin.

“Iklan itu sejenis parodi yang mengkritik kondisi politik saat ini. Sebenarnya tidak perlu ada perseteruan-perseteruan yang akhirnya merugikan rakyat. PKS hanya ingin mencoba menyadarkan kalau semua itu bisa diselesaikan dengan kepala dingin,” jelas Mahfudz kepada INILAH.COM, Jumat (13/2) di Jakarta.

Jelas saja, kliping yang merangkum perseteruan elite dalam dua pekan terakhir ini mendapat reaksi balik dari pihak-pihak yang merasa tercatut dalam iklan tersebut. Tuduhan kampanye hitam (black campaign) pun tersematkan pada partai Islam tersebut. PDIP dan Golkar yang berencana menggugat PKS.

“Iklan itu provokatif. Iklan itu seolah mengadu domba antara partai dengan konstituen. Saya sebagai pimpinan partai tidak terima,” tegas Ketua Bappilu Partai Golkar, Firman Subagyo.

Namun, pendapat berbeda muncul dari penagamat maupun praktisi komunikasi. Dedi Nur Hidayat, pakar komunikasi politik UI, menilai iklan PKS masih dalam batas wajar saja meski iklan tersebut masuk kategori iklan attacking (menyerang). “Saya kira wajar saja. Toh materi iklannya tidak manipulatif. Semua berdasar pada fakta kliping media,” ujarnya. Menurut dia, iklan yang tidak wajar justru iklan yang menyerang tapi tidak ada fakta.

Bahkan secara etika politik, Dedi menilai, iklan PKS tidak melanggar fatsoen politik. Iklan yang memanipulasi fakta serta menyerang pada sosok personal, sambung Dedi, masuk kategori melanggar etika politik. “PKS tidak melakukan itu kan,” cetusnya.

Hal senada diungkapkan praktisi periklanan Nur Tri Andini. Menurut dia justru PKS dalam iklan terbarunya cukup hati-hati dengan menampilkan fakta di berbagai media dengan tidak ada upaya PKS menghakimi pihak manapun. “Makanya ditunjukkan kliping-kliping media. PKS tidak ngomong apa-apa. Yang paling penting iklan PKS telah memainkan pencitraan dan tentunya cukup murah,” katanya.

Selain itu, ide penampilan iklan PKS cukup cerdas dan keluar dari pakem iklan politik yang pernah muncul selama ini. Menurut Nunu, iklan politik kebanyakan selalu menjelaskan ‘siapa saya’, ‘apa pandangan saya’ yang terkait dengan identitas. “Nah, iklan PKS tampil dengan simpatik, sederhana, murah, dan cukup melempar masalah saja,” kata pengasuh sekolah penulisan iklan secara online ini.

Soal efektivitas iklan politik PKS, Nunu menilai iklan tersebut ditujukan pada masyarakat kelas menengah ke atas yang berpendidikan. Karena ide iklannya yang cerdas, sambung Nunu, iklan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang cerdas. “Kalau masyarakat kelas menengah ke bawah kan simple, seperti coblos kumisnya,” ujarnya mencontohkan.

Sementara, anggota Badan Pengawas Pemilu Bambang Eka Cahyo Widodo tidak sependapat jika iklan politik PKS masuk kategori kampanye hitam. Menurut dia, yang masuk kategori kampanye hitam adalah iklan atau selebaran yang tidak jelas sumbernya darimana. “Iklan itu kan jelas sumbernya dari PKS,” terangnya di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Meski demikian, pihaknya bakal menganalisis lebih jauh perihal iklan tersebut. [I4] (inilah.com)
------
download iklan terkait klik disini!

Comments