Time is NEVER STOP

-COVER-


Cuaca sedang cerah. Hembusan angin menerpa wajahku. Aku terdiam sejenak. Menatapi sebuah buku penuh dengan kenangan. Entah mengapa aku masih saja berpegang teguh pada sebuah harapan yang belum tentu pasti. Aku bertanya pada diriku apakah ‘dia’ masih seperti itu? Apa keadaan akan mengulurkan tangannya untukku? Aku mencoba menyatukan beberapa serpihan perasaan yang terbuang sia-sia. Tapi meskipun aku berusaha dengan keras, aku tak dapat menutupi retakannya.
Sekarang, aku duduk di bangku kelas sembilan. Sebenarnya sudah lama aku mengenal dia. Kami berteman lebih dari 6 tahun. Namanya adalah Harry. Seorang laki-laki yang menurutku bisa dibilang multitalenta tetapi sikapnya masih kekanak-kanakan. Kami sudah seperti sendok dan garpu. Kami sering menghabiskan waktu untuk bergurau bersama.
Awalnya aku mengganggap Harry hanya teman sekelas. Tetapi semakin lama, aku merasakan ada sesuatu yang mengubah perasaanku padanya. Setiap melihatnya, aku merasa senang dan tegang. Dan setiap kali kami bertegur sapa, aku semakin gugup dan salah tingkah. Aku sadar, aku mulai menyukai Harry. Ternyata, perubahanku itu dirasakan juga oleh kedua sahabatku Icha dan Yessi.
“Kau ini kenapa? Tiba-tiba berubah diam seperti ini. Biasanya juga ceria dan tak bisa diam.” Yessi berbicara dengan nada santainya.
“Mungkin dia lagi memikirkan seseorang! Teman sekelas kita itu.” Icha menjawab dengan makanan yang penuh dimulutnya.
Aku haya bisa terdiam. Aku bingung dan malu harus mengatakan apa pada kedua sahabatku itu. Sudah cukup banyak masalah pribadiku yang mereka tampung.
  “Ayolah, cerita saja pada kami! Siapa tahu kami dapat mebantu!” kata Yessi
Aku merasa semakin terdesak. Dan akibat dari ulah kedua sahabatku. Aku menceritakan semua yang ku rasakan selama ini.
“Sepertinya aku menyukai Harry. Setiap berada didekatnya, aku merasa nyaman. Seperti berada dalam surga makanan.”
“Hah kau ini! Jangan selalu melebih-lebihkan ceritamu. Aku jadi terharu mendengarnya.” sahut Icha dengan muka konyolnya.

Yessi dan icha hanya bisa tersenyum jahil. Mungkin di dalam hati, mereka tertawa karena cerita konyolku ini. Beberapa saat kemudian mimik wajahku langsung berubah seketika. Aku ingat apa kata temanku Tia. Ternyata, Harry menyukai Linda. Linda juga salah satu teman sekelasku. Menurutku, Linda adalah gadis yang paling cantik diantara kami semua. Kulitnya putih, wajahnya ceria, dan dia juga termasuk gadis yang sangat cerewet. Pantas saja Harry menyukainya.
Aku berkata dalam nada lirih “Tapi sayangnya, Harry menyukai Linda. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku sudah cukup menahan kesedihan dengan keadaan seperti ini. 8 bulan aku menyukainya. Tetapi kenyataan bahwa Harry menyukai Linda tidak bisa ku ubah. Aku sudah berusaha menjauhinya. Tetapi semakin aku berusaha, semakin kecil perubahannya. Aku tidak pernah bisa menjauh darinya.”
Wajah Icha dan Yessi berubah seketika. Mungkin mereka prihatin dengan keadaanku yang buruk ini. Suasana mulai berubah. Aku merasa, tak ada gunanya aku menyukai orang yang ternyata menyukai orang lain. Perlahan-lahan aku mulai meneteskan air mata. Air mata yang mungkin juga akan terbuang sia-sia. Air mata yang mungkin tidak ada harganya bagi seorang Harry.
Lalu Icha menatapku sambil berkata “Sudahlah, hentikan tangisanmu ini. Jangan terlihat lemah di depan Harry! Aku tahu perasaanmu saat ini. Mungkin kau berpikir, perasaanmu berkhianat. Tapi percayalah, masih banyak laki-laki di luar sana yang dapat menghargai ketulusan perasaanmu dibandingkan Harry. Jangan biarkan dirimu hanya menjadi boneka baginya! Buktikan pada Harry kalau kau bisa move on! Dengan begitu, mungkin dia akan sadar akan perbuatannya.”
“Icha benar, kau tidak mungkin begini terus sepanjang hari. Mungkin, ini salah satu pelajaran yang Tuhan berikan padamu. Dengan kejadian ini, kau bisa semakin tegar.” sahut yessi sambil memberikan selembar tisiu padaku.
Aku mengusap air mataku. Mulai mencerna apa yang dikatakan kedua sahabat baikku. Kata-kata mereka ada benarnya juga. Mulai sekarang aku akan buktikan padanya bahwa, dia bukan lagi segalanya bagiku.
Beberapa bulan telah berlalu sejak kejadian buruk menimpaku. Aku menghela nafas lega. Aku bersyukur karena perasaanku sudah tidak terikat padanya. Semua kekecewaan, kecemburuan, ketidaksabaran sudah bisa kulepas. Akhirnya tidak ada beban yang harus kupikul.
Ponselku berbunyi. Aku segera berlari mengambil ponselku. Dan ternyata, setelah melihatnya  ada yang berubah dari lekukan bibirku.
Aku tersenyum gembira. Mendapat sebuah pesan dari seseorang yang membuatku bisa melupakan kejadian yang bagiku adalah ‘masa lalu yang tak perlu dikenang’. Sebut saja namanya Ron. Ya, aku sangat bersyukur dapat dekat dengan laki-laki sepertinya. Laki-laki yang dapat membantu mengobati retakan perasaan ini.
Semua memang indah pada waktunya. Aku percaya itu. Tuhan telah menyiapkan semuanya. Terang dalam setiap kegelapan, jawaban dari semua pertanyaan, kunci untuk setiap pintu yang tertutup, dan sebuah hadiah bagi siapa saja yang mau bersabar.
Aku berharap, seiring berjalannya waktu. Aku akan segera mempunyai pelangi dalam hidupku. Pelangi yang tak akan pernah pudar meski datangnya hujan. Pelangi yang warnanya dapat menyemangati hidupku. Dan pelangi itu adalah Ron.
Selalu ingat, waktu terus berputar. Dan Waktu Tak Pernah Berhenti.


Cerpen-
Created by : Jesica Felicia Bengu

Comments