Pembahasan ini selalu menjadi topik hangat: bagaimana materi-materi sensitif harus ditangani di media sosial? Seperti layaknya televisi yang mulai menyaring konten-konten sensitif dari penontonnya, media sosial juga berbenah untuk memfilter segala materi-materi dewasa dari para penggunanya.
Tak terkecuali Twitter. Di media sosial 140 karakter ini, sebuah pembaruan atas kebijakan terhadap material sensitif telah diterbitkan. Dalam Policy Update Twitter, dituliskan bahwa Twitter tetap mempertahankan layanan mereka yang memberikan kenyamanan bagi para penggunanya untuk menjelajahi dan menerima konten dari sumber-sumber yang memang menarik dan sesuai bagi para penggunanya. Oleh karena itu, Twitter harus memberikan garis-batas dan petunjuk yang meyakinkan para penggunanya bahwa konten-konten dalam Twitter merupakan konten yang pantas ditampilkan.
Jika pengguna Twitter memposting atau mengunggah materi yang sensitif seperti pornografi, kekerasan, dan sebagainya, mereka harus mengubah pengaturan akun (account setting) mereka dan menandai bagian "Mark my media as containing sensitive content". Ini akan menandai bahwa suatu konten yang akan dipublikasikan merupakan konten sensitif yang hanya bisa dilihat oleh pengguna tertentu saja. Jika pengguna tidak menggunakan ini, maka pengguna lain bisa melakukan tindakan dengan cara mereka sendiri seperti mem-block pengguna tertentu.
Beberapa pengamat menilai ini sebagai cara yang cukup baik agar Twitter tetap terbebas dari berbagai konten sensitif, tetapi banyak pengamat lainnya menilai ini justru melanggar hak prerogatif pengguna. Mereka mempertanyakan siapakah yang sebenarnya bertanggung jawab untuk menyaring konten sensitif dari Twitter: si pengguna yang akan berbagi konten tersebut atau orang lain? Dari cara mengubah pengaturan akun tadi, kita bisa melihat bahwa kewajiban si pemilik akun yang akan berbagi konten sensitiflah menandai bahwa kontennya tidak pantas ditampilkan oleh semua kalangan pengguna. Tetapi apakah memang benar kewajiban ada di tangannya?
Banyak yang justru mempertanyakan sebaliknya: bukankah itu tanggung jawab dari pengguna lain yang akan melihat konten tersebut? Bukankah itu tanggung jawab pengguna lain yang seharusnya memfilter linimasa mereka sendiri dari konten-konten apa saja yang mereka lihat dan mereka tidak lihat? Jika seorang anak di bawah umur terlanjur melihat konten sensitif di Twitter, bukankah itu tanggung jawab orangtua untuk menyaring linimasa si anak dan mengaturnya sedemikian rupa agar terbebas dari konten sensitif?
Perdebatan seperti ini masih terus memanjang. Di media sosial apapun, tidak terkecuali Twitter, memang kebebasan berpendapat menjadi barang suci yang agak sulit untuk diganggu-gugat. Tetapi, sebagai pengguna bijak, Anda tahu apa yang harus Anda lakukan untuk terhindar dari konten sensitif, bukan? Twitter punya fitur unfollow, block, filter keyword, dan lain sebagainya. Lebih-lebih, Twitter telah menerbitkan fitur Mark my media as containing sensitive content. Artinya, sekarang giliran para penggunanya yang memanfaatkan fitur tersebut untuk keamanan dan kenyamanan mereka sendiri.


Comments
Post a Comment