UDJO NGALAGENA SANG MAESTRO ANGKLUNG SENI TRADISIONAL INDONESIA

Foto Repro by : Indra Kusuma
Udjo Ngaladena lahir 5 maret 1929 - meninggal 3 Mei 2001 pada usia 72 tahun. Udjo Ngaladena merupakan salah seorang seniman musik angklung, beliau bersama istrinya bernama Uum Sumiarti (panggilan akrabnya) mendirikan Saung Angklung Udjo pada tahun 1966 hingga sekarang yang merupakan sanggar seni sebagai tempat pertunjukkan seni, laboraturium, pendidikan sekaligus sebagai objek wisata budaya khas daerah Jawa Barat dengan menghandalkan semangat gotong royong antara sesama warga desa.

Cita-citanya untuk dapat mewujudkan pesan dari Bapak Angklung Dunia yaitu Daeng Soetigna (alm), untuk dapat mmemperkenalkan ANGKLUNG ke semua orang di seluruh dunia, agar dikenal dimana-mana. Dengan gagasan inilah Udjo Ngaladena melalui penampilan kesenian musik ANGKLUNG dapat membantu mendorong terciptanya perdamaian di dunia yang kita cintai ini.



Foto Penulis bersama MC
Pada saat penulis hadir dalam acara di Saung Angklung Udjo dalam acara Wisata Budaya 2012. Sungguh luar bioasa kecintaan (alm) Udjo Ngaladena dalam memperjuangkan untuk memperkenalkan alat musik seni tradisional. Hingga pada tahun 2010 UNESCO sebagai Badan dunia yang membawahi salah satunya mengenai kesenian tradisional, memberikan penghargaan dan pengakuannya, bahwa angklung merupakan salah satu alat musik tradisional dari Indonesia.


Foto by : Indra Kusuma


Angklung tidak hanya dipakai hiasan, namun dapat untuk memainkan lagu-lagu sederhana. Pertunjukan yang disajikan para anak didik di Saung Angklung Udjo dapat membuat para wisatawan yang hadir terpesona dengan penampilan mereka, sekaligus para wisatawan dapat belajar menggunakan aklung untuk dimainkan bersama-sama. Sebuah lagu anak-anak yang cukup populer di banyak negara, termasuk di Indonesia. penontonton pun ikut diajak bernyanyi bersama.


Foto by : Indra Kusuma
Dengan angklung Pa Daeng yang disebut juga angklung Do - Re - Mi, angklung dengan laras nada diatonis yang diciptakan oleh Bapak Daeng Sotigna (Alm) pada tahun 1938, angklung bukan hanya dapat digunakan untuk membawakan lagu-lagu daerah, namun juga lagu-lagu nasional dan internasional. Para wisatawan yang menyaksikan pertunjukkan tersebut juga diajarkan dalam bermain angklung. Foto disamping sebelah kiri merupakan beberpa cuplikan pada saat para wistawan menadapatkan instruktur bermain angklung bersama.


Foto by : Indra Kusuma
Sekarang angklung sering dimainkan sebuah penampilan seni orkestra, dan sering dikombinasikan dengan permainan alat musik seperti gitar, perkusi dll. Angklung dapat juga memainkan hampir semua jenis lagu, klasik, kontemporer, pop serta mengiringi vokal.Keistimewaan angklung adalah sebagai alat musik yang sangat menarik dibawakan secara massal, karean permainan angklung yang baik akan tercipta bila di antara pemainnya terdapat kekompakan. Dan di Saung Angklung Udjo kita akan mendapatkan tekhnik cara bermain angklung dengan langsung mempraktekkan dalam permainan dalam membawakan beberapa lagu dengan sedikit orang.


Foto by : Indra Kusuma
Pada akhir acara, para pemirsa yang membawa anak-anaknya dapat terlibat dalam permainan seni tradisional yang langsung ditemani dan diarahkan oleh para anak asuh di Saung Angklung Udjo dalam permainan ini. Suasana menjadi tambah meriah dengan melibatkkan para penonton untuk turut serta mengisi acara ini. Lihatlah suasana di sana dalam foto sebelah kiri ini.





Walau pun kini Mang Udjo telah tiada, namun hasil dari suatu ide gagasannya yang dimulai dari langkah sederhana, kini banyak telah melahirkan para seniman-sniman angklung dengan peningkatan perekonomian di daerahnya bahkan di negeri Indonesia, sebagai objek wisata budaya. Mungkin hal ini dari penduduk Indonesia belum banyak mengetahui tentang hal ini. Namun hasil kerja Mang Udjo kini telah terkenal oelh masyarkat Internasional. hasil karya anak-anak didiknya dan masyarakat setempat sudah banyak singgah di negeri Jepang, Korea, Inggris, Belanda, Amerika, Perancis dll.

Dan tentunya masih banyak potensi masyarakat Indonesia yang masih belum bermunculan dan dikenal dengan dunia internasional.Semoga mereka dapat bertahan dalam suatu komitment sederhana untuk kesenian tradisional, karena tradisional itu bukanlah suatu hal yang kuno dan tertinggal jaman; namun dengan tradisional dapat mengimbangi kemajuan jaman dan hidup selaras beriringan dengan menghasilkan suatu karya yang lebih sempurna dalam kesenian yang unik.

Ini merupakan suatu apresiasi dari penulis untuk sebuah hasil karya (alm) Mang Udjo beserta keluarga besarnya dan juga masyarakat setempat sebagai bentuk rasa hormat kami, untuk para pejuang seni budaya Indonesia yang terus bergerak memperkenalkan hasil karya seni tradisional di mata Internasional.


Salam Wisata,

Reservasi Perjalanan Wisata Anda :







Comments