IKHWANUL MUSLIMIN memenangkan lebih dari sepertiga suara dalam pemilihan tahap akhir parlemen Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok Islam akan mendominasi lembaga legislatif negara itu. Partai Ikhwanul Muslimin memenangkan 37,5 persen suara di tahap ketiga dan terakhir pemungutan suara. Mengulang pola yang terlihat pada putaran sebelumnya, sementara Partai Nour berada pada urutan kedua.
Sikap antusias warga yang mendukung kubu Islam menunjukkan minat besar mereka untuk merealisasikan tujuan revolusi mereka. Di sisi lain kekalahan kubu sekular dan pro Barat di pemilu parlemen Mesir dinilai akibat kelemahan kubu ini serta warga yang sudah berpaling dari mereka.
Ali Abul Khair, Ketua Lembaga Riset Farabi menyebut proses pemilu parlemen di Mesir cukup memuaskan. Babak ketiga pemilu legislatif di Provinsi al-Mansurah mendapat sambutan luar biasa warga. Meski harus mengantri panjang guna memilih, namun warga tetap antusias untuk menyalurkan hak suaranya. Di tahap ketiga pemilu legislatif ini tidak diwarnai kerusuhan.
Pengamat ini menambahkan bahwa akhir dari tahap ketiga pemilu ini cukup memuaskan seperti tahap sebelumnya yang tidak diwarnai kerusuhan. Ia memprediksikan tahap terakhir ini pun akan dimenangkan oleh Partai Kebebasan dan Keadilan dari Ikhwanul Muslimin. Dalam memberikan analisanya soal kekalahan kubu sekular dan pro Barat, Ali Abul Khair menegaskan bahwa saat ini rakyat Mesir cenderung ke Islam dan kubu-kubu Islam. Oleh karena itu meski kubu sekular dan pro Barat gencar menggelar kampanye, namun mereka tidak memperoleh dukungan rakyat.
Ia pun mengatakan tak boleh dilupakan bahwa Ikhwanul Muslimin di Mesir sejak lama telah populer di kalangan rakyat. Apalagi kelompok ini memiliki program yang diterima rakyat. Dengan demikian wajar jika Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu. Lebih lanjut Abul Khair menandaskan, sejatinya tidak ada persaingan di antara etnis muslim Mesir terkait kubu Islam.
Di sisi lain, ia menganalisa kemenangan kubu Salafi karena dana besar minyak yang mendukung mereka dan mereka ini adalah kaum Wahabi. Lebih lanjut ia menambahkan, Salafi memanfaatkan dana besar dan fatwa palsu sebagai kampanye mereka. Partai Salafi al-Nour mendapat suplai dana dari sejumlah organisasi Arab Saudi, Kuwait dan Qatar.
Uniknya lagi menurut Abul Khair, Partai al-Nour dalam setiap kampanyenya selalu menekankan barang siapa yang memilih partai ini akan masuk surga dan yang tidak akan masuk neraka. Hal ini menurutnya dikarenakan kelemahan al-Azhar serta sejumlah keyakinan masyarakat. Lagi pula kubu Salafi di setiap mimbar senantiasa menekankan bahwa hanya mereka saja yang termasuk muslim sejati dan yang lainnya kafir. Meski propaganda kubu Salafi membuat mereka meraih suara cukup banyak. Namun demikian untuk membawa kubu ini ke puncak kemenangan sulit terjadi. (IRIB Indonesia/MF)
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia
Sikap antusias warga yang mendukung kubu Islam menunjukkan minat besar mereka untuk merealisasikan tujuan revolusi mereka. Di sisi lain kekalahan kubu sekular dan pro Barat di pemilu parlemen Mesir dinilai akibat kelemahan kubu ini serta warga yang sudah berpaling dari mereka.
Ali Abul Khair, Ketua Lembaga Riset Farabi menyebut proses pemilu parlemen di Mesir cukup memuaskan. Babak ketiga pemilu legislatif di Provinsi al-Mansurah mendapat sambutan luar biasa warga. Meski harus mengantri panjang guna memilih, namun warga tetap antusias untuk menyalurkan hak suaranya. Di tahap ketiga pemilu legislatif ini tidak diwarnai kerusuhan.
Pengamat ini menambahkan bahwa akhir dari tahap ketiga pemilu ini cukup memuaskan seperti tahap sebelumnya yang tidak diwarnai kerusuhan. Ia memprediksikan tahap terakhir ini pun akan dimenangkan oleh Partai Kebebasan dan Keadilan dari Ikhwanul Muslimin. Dalam memberikan analisanya soal kekalahan kubu sekular dan pro Barat, Ali Abul Khair menegaskan bahwa saat ini rakyat Mesir cenderung ke Islam dan kubu-kubu Islam. Oleh karena itu meski kubu sekular dan pro Barat gencar menggelar kampanye, namun mereka tidak memperoleh dukungan rakyat.
Ia pun mengatakan tak boleh dilupakan bahwa Ikhwanul Muslimin di Mesir sejak lama telah populer di kalangan rakyat. Apalagi kelompok ini memiliki program yang diterima rakyat. Dengan demikian wajar jika Ikhwanul Muslimin memenangkan pemilu. Lebih lanjut Abul Khair menandaskan, sejatinya tidak ada persaingan di antara etnis muslim Mesir terkait kubu Islam.
Di sisi lain, ia menganalisa kemenangan kubu Salafi karena dana besar minyak yang mendukung mereka dan mereka ini adalah kaum Wahabi. Lebih lanjut ia menambahkan, Salafi memanfaatkan dana besar dan fatwa palsu sebagai kampanye mereka. Partai Salafi al-Nour mendapat suplai dana dari sejumlah organisasi Arab Saudi, Kuwait dan Qatar.
Uniknya lagi menurut Abul Khair, Partai al-Nour dalam setiap kampanyenya selalu menekankan barang siapa yang memilih partai ini akan masuk surga dan yang tidak akan masuk neraka. Hal ini menurutnya dikarenakan kelemahan al-Azhar serta sejumlah keyakinan masyarakat. Lagi pula kubu Salafi di setiap mimbar senantiasa menekankan bahwa hanya mereka saja yang termasuk muslim sejati dan yang lainnya kafir. Meski propaganda kubu Salafi membuat mereka meraih suara cukup banyak. Namun demikian untuk membawa kubu ini ke puncak kemenangan sulit terjadi. (IRIB Indonesia/MF)
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia



Comments
Post a Comment