Lega nan bahagia. Begitulah kira-kira yang kami rasakan, para remaja yang liqo tarbiyah rutin tiap Jumat sore dan tergabung di HAMASAH (Himpunan Anak Muda Mushola Khusnul Khotimah, Bintaran Wetan, Piyungan) selepas terlaksananya agenda Rihlah Ceria di pantai Gua Cemara dan Kwaru yang terletak di pesisir selatan Jogjakarta, Ahad 30 Okyober 2011.
Acara tersebut sebenarnya telah direncanakan jauh-jauah hari dan telah melewati serangkaian survey ke beberapa tempat, namun karena saking beragamnya jadwal dari tiap-tiap personel yang rata-rata berstatus sebagai pelajar SMP/SMA, bukanlah hal yang mudah untuk menyatukan waktu demi kegiatan tersebut.
Arak-arakan awan mendung yang menggelayut di langit seolah hendak memayungi kami sepanjang perjalanan dan tak rela terik matahari menyengat kulit kami. Hujan yang belakangan sering mengguyur, hari itu cukup bersahabat pada kami dan rela tak menumpahkan rintikannya ke bumi. Benar-benar menyenangkan!.
Meskipun meleset setengah jam dari waktu yang semula dijadwalkan, 07.00, namun tak menjadi masalah yang berarti. Lagipula, bukan Indonesia namanya jika tidak ada keterlambatan ^_^. Yasmin, Puspa, mbak Etri dan beberapa personel lain yang saking semangatnya telah siap sejak pukul 06.00 mau tak mau harus sedikit bersabar dan berhusnuzon. Pun Pak Robi yang juga ketua takmir beserta istri dan anaknya musti menunggu kami cukup lama di depan SPBU Tegalyoso.
Dengan mobil pick up milik mas Wawan yang tak lain adalah ayah dari salah satu personel HAMASAH, Wening, kamipun berangkat dengan riang. Di sepanjang perjalanan tak hentinya kami melepas canda dan tawa hingga mengundang perhatian dari pengguna jalan lainnya. Ketika sadar, kamipun hanya mampu menghentikan tawa sebentar sambil menutup wajah. Terlebih-lebih ketika di lampu merah yang memungkinkan orang dapat memperhatikan kami dengan lebih jelas.
Hampir satu setengah jam berlalu. Setelah mata kami puas menikmati hamparan sawah yang hijau, lambaian pohon-pohon kelapa mengalihkan perhatian dan seolah memberikan petunjuk gembira bahwa kami sebentar lagi akan menginjakkan kaki di pesisir pantai. Pantai Gua Cemara, objek wisata pertama yang akan kami kunjungi.
Rimbunan cemara pantai seolah bersuka cita menyambut kedatangan kami yang memang baru pertama kalinya. Sesekali kami harus membungkukkan badan karena ranting cemara yang cukup pendek dan sedikit mengganggu langkah kami untuk segera menghambur ke pantai. Puas bergulat dengan pohon cemara, kami menyempatkan diri dulu untuk membentangkan tikar, menurunkan barang bawaan yang rata-rata berupa makanan, sambil kemudian beristirahat sejenak.
Tak disangka, mbak Etri, senior kami, membawa bekal sangat banyak. Pantas saja, yang lain paling pol Cuma bawa satu tas saja, beliau bawa sampai lebih dari tiga tas besar. Mulai dari arem-arem, martabak, camilan aneka rupa, aneka buah-buahan, sampai permenpun, semuanya beliau bawa. “Tahu begini kita tidak perlu ribet bawa-bawa bekal dari rumah!” celetuk salah seorang peserta. Ya, jauh hari sebelumnya kami telah membagi tugas, siapa yang bawa mangga, bengkoang, sambel, dan semacamnya untuk dinikmati bersama, disamping bekal pribadi serta kado silang.
Puas menikmati menu-menu tadi, acara berlanjut ke pantai. Dengan pesisir yang cukup landai, kamipun tak bisa bermain bola ataupun game lain yang semula telah kami rencanakan. Tapi tak menjadi masalah, ombak yang bergulung-gulung dan sesekali menghampiri kami yang seolah menantang dari tepi, telah cukup membuat kami merasa senang. Tak hanya itu, satu per satu personel HAMASAH akhirnya kuyup. Bukan karena ganasnya ombak pantai, tetapi lebih karena ganasnya personel-personel lain yang menariknya dan menceburkannya ke pantai. Meski meronta, bahkan sambil teriak, tetap saja tidak ada ampunan. Hampir semua menjadi ‘korban’. Yes!.
Yang paling sulit untuk ‘diseret’ ke pantai adalah mbak Etri. Entah karena saking kuatnya beliau atau teman-teman lainnya yang sudah habis energinya karena telah dipakai untuk menarik korban–korban sebelumnya. Tapi bukan HAMASAH namanya jika tak kuat menarik sang senior. Jadilah akhirnya mbak Etri kuyup juga sebagaimana lainnya.
Karena hendak melanjutkan perjalanan ke pantai Kwaru yang hanya berjarak sekitar 5 km dari pantai Gua Cemara, maka, meskipun masih basah kuyup dan kotor oleh pasir yang menempel, kami tak hendak berganti pakaian. Tanggung, sepertinya di Kwaru bakal berbasah-basahan lagi. Rencana main bola dan game lainnya akan kami laksanakan di Kwaru yang setahu kami memiliki pesisir yang lebih datar sehingga memungkinkan untuk kami bermain.
Sampai di parkiran tempat pick up kami diparkirkan, kami tidak lantas dapat bersiap berangkat karena harus menunggu bu Nila yang tengah menunggu ikan selesai dibakar sekitar setengah jam. Lama memang, tapi tak mengapa. Toh semua itu demi kita
Tak sampai lima belas menit perjalanan, kami telah tiba di Kwaru. Secara fisik memang hampir mirip dengan pantai sebelumnya. Hanya saja, Kwaru lebih banyak pengunjungnya. Di samping lebih awal dipopulerkan, fasilitas yang ada di Kwaru jauh lebih lengkap. Mulai dari tempat ibadah, warung makan, kolam renang, dsb. Peristiwa abrasi pantai yang sempat terjadi beberapa bulan terakhir ternyata tak menyurutkan niat para wisatawan , termasuk kami, untuk berkunjung ke pantai Kwaru.
Bagaimanapun abrasi masih meninggalkan bekas-bekasnya. Beberapa pohon cemara pantai tercabut bersama akarnya, sebagian pohon juga mengalami kerusakan dengan daun yang menguning oleh air pantai yang asin yang sempat menyapu sebagian bibir pantai. Pesisir pantai yang datar yang kami bayangkan dapat digunakan untuk bermain bola pun sudah tidak nampak lagi. Air pantai telah ‘menyulapnya’ menjadi landaian yang jauh dari bayangan kami. Batallah ‘liga HAMASAH’ yang semula telah kami siapkan. Bola yang dibawa Kiki, wakil ketua HAMASAH, urung dimainkan.
Beruntungnya kami tidak kehilangan akal. Balon-balon yang telah disiapkan oleh Dewi, sang juru belanja HAMASAH, segera kami tiup satu per satu. Apalagi kalau bukan untuk permainan. Balon naga! Dengan membentuk barisan secara berbanjar, personel paling depan berusaha untuk menusukkan tusukan sate yang dipegangnya ke balon yang diikatkan ke personel kelompok lain yang paling belakang.
Dengan personil yang hanya 13 orang (tidak termasuk yang masih junior2), terbentuklah 4 kelompok yang masing2 terdiri dari 3 sampai 4 personel. Satu babak mempertandingkan dua kelompok yang pemenangnya nanti akan diadu dengan kelompok yang menang di babak lainnya. KOcaknya, di babak final yaitu antara kelompok 1 yang dikomandani oleh mbak Prapti dan kelompok 3 yang dikomadani oleh Kiki. Pada babak ini, kemenangan yang diperoleh oleh kelompok mbak Prapti bukan dikarenakan kelihaiannya mengamankan balon naga nya, bukan juga kehebatannya mengayunkan tusuk sate ke balon lawan. Tapi lebih pada aksi konyol yang dilakukan oleh sang komandan, mb Prapti, yang membentangkan kedua tangannya sambil bergoyang-goyang dan bergaya seolah-olah mau nangkap ayam (kebayang gak???). Aksinya itu tak urung membuat lawannya terpingkal-pingkal dan akhirnya kehilangan energi untuk berdiri apalagi berlari mengamankan diri. Kesempatan ini tak disia-siakan, jadilah dengan mudah balon Naga lawan diledakkan!
Selain game, di Kwaru ini kado silang yang masing-masing personel telah mempersiapkan sebelumnya, dirotasi. Kado silang senilai dua ribua-an diharuskan berupa barang yang dapat dimakan. Bukan batu, kerikill, atau semacamnya. Setelah dirotasi dan dipastikan tidak ada yang mendapat kadonya sendiri, tibalah sesi membuka kado. Mbak Novi, salah seorang personel yang sejak tadi merasa aneh dengan kado yang diterimanya, tak segera membuka sebagimana lainnya. “Kok perasaanku gak enak ya?” katanya lirih.
Karena paling terakhir membuka kado, jadilah dia pusat perhatian. “Bismilah!”
Begitu sulit dibuka karena di samping berat, bungkusnya penuh lakban di sana-sini. Akhirnya dengan perjuangan yang cukup panjang, terbukalah kado itu. Dan isinya……..BONGKAHAN GARAM DAPUR!!!
“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK……………….!”
Apa-apaan ini?.Ada-adaaa saja!
***
Epilog:
Ya Alloh terima kasih atas kebersamaan ini. Meskipun sepulang dari rihlah ini kami lumayan pegel-pegel karena diseret dan menyeret, sama sekali tak kami rasa jika dibandingkan dengan ukhuwah indah yang Engkau anugrahkan. Berkahilah kebersamaan kami, dan himpun kami kelak di surga-Mu. Amiin.
Terima kasih (juga) untuk:
Bapak Rubikan, ketua Takmir Mushola Khusnuul Khotimah Bintaran Wetan, beserta keluarga yang telah sudi mendampingi kami, menyiapkan keperluan logistic buat kami…semuanya.
Mas Wawan atas pick up nya yang telah mengantarkan kami pada penjelajahan yang menyenangkan….
Mbak Etri, yang kalo udah sodaqoh, tidak pernah mikir bakal rugi. Apapun diberikan!
Jazaakumulloh khoiron katsiiro…
*)Mahasiswi Pertanian UGM, murobbiyah
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
Acara tersebut sebenarnya telah direncanakan jauh-jauah hari dan telah melewati serangkaian survey ke beberapa tempat, namun karena saking beragamnya jadwal dari tiap-tiap personel yang rata-rata berstatus sebagai pelajar SMP/SMA, bukanlah hal yang mudah untuk menyatukan waktu demi kegiatan tersebut.
Arak-arakan awan mendung yang menggelayut di langit seolah hendak memayungi kami sepanjang perjalanan dan tak rela terik matahari menyengat kulit kami. Hujan yang belakangan sering mengguyur, hari itu cukup bersahabat pada kami dan rela tak menumpahkan rintikannya ke bumi. Benar-benar menyenangkan!.
Meskipun meleset setengah jam dari waktu yang semula dijadwalkan, 07.00, namun tak menjadi masalah yang berarti. Lagipula, bukan Indonesia namanya jika tidak ada keterlambatan ^_^. Yasmin, Puspa, mbak Etri dan beberapa personel lain yang saking semangatnya telah siap sejak pukul 06.00 mau tak mau harus sedikit bersabar dan berhusnuzon. Pun Pak Robi yang juga ketua takmir beserta istri dan anaknya musti menunggu kami cukup lama di depan SPBU Tegalyoso.
Dengan mobil pick up milik mas Wawan yang tak lain adalah ayah dari salah satu personel HAMASAH, Wening, kamipun berangkat dengan riang. Di sepanjang perjalanan tak hentinya kami melepas canda dan tawa hingga mengundang perhatian dari pengguna jalan lainnya. Ketika sadar, kamipun hanya mampu menghentikan tawa sebentar sambil menutup wajah. Terlebih-lebih ketika di lampu merah yang memungkinkan orang dapat memperhatikan kami dengan lebih jelas.
Hampir satu setengah jam berlalu. Setelah mata kami puas menikmati hamparan sawah yang hijau, lambaian pohon-pohon kelapa mengalihkan perhatian dan seolah memberikan petunjuk gembira bahwa kami sebentar lagi akan menginjakkan kaki di pesisir pantai. Pantai Gua Cemara, objek wisata pertama yang akan kami kunjungi.
Rimbunan cemara pantai seolah bersuka cita menyambut kedatangan kami yang memang baru pertama kalinya. Sesekali kami harus membungkukkan badan karena ranting cemara yang cukup pendek dan sedikit mengganggu langkah kami untuk segera menghambur ke pantai. Puas bergulat dengan pohon cemara, kami menyempatkan diri dulu untuk membentangkan tikar, menurunkan barang bawaan yang rata-rata berupa makanan, sambil kemudian beristirahat sejenak.
Tak disangka, mbak Etri, senior kami, membawa bekal sangat banyak. Pantas saja, yang lain paling pol Cuma bawa satu tas saja, beliau bawa sampai lebih dari tiga tas besar. Mulai dari arem-arem, martabak, camilan aneka rupa, aneka buah-buahan, sampai permenpun, semuanya beliau bawa. “Tahu begini kita tidak perlu ribet bawa-bawa bekal dari rumah!” celetuk salah seorang peserta. Ya, jauh hari sebelumnya kami telah membagi tugas, siapa yang bawa mangga, bengkoang, sambel, dan semacamnya untuk dinikmati bersama, disamping bekal pribadi serta kado silang.
Puas menikmati menu-menu tadi, acara berlanjut ke pantai. Dengan pesisir yang cukup landai, kamipun tak bisa bermain bola ataupun game lain yang semula telah kami rencanakan. Tapi tak menjadi masalah, ombak yang bergulung-gulung dan sesekali menghampiri kami yang seolah menantang dari tepi, telah cukup membuat kami merasa senang. Tak hanya itu, satu per satu personel HAMASAH akhirnya kuyup. Bukan karena ganasnya ombak pantai, tetapi lebih karena ganasnya personel-personel lain yang menariknya dan menceburkannya ke pantai. Meski meronta, bahkan sambil teriak, tetap saja tidak ada ampunan. Hampir semua menjadi ‘korban’. Yes!.
Yang paling sulit untuk ‘diseret’ ke pantai adalah mbak Etri. Entah karena saking kuatnya beliau atau teman-teman lainnya yang sudah habis energinya karena telah dipakai untuk menarik korban–korban sebelumnya. Tapi bukan HAMASAH namanya jika tak kuat menarik sang senior. Jadilah akhirnya mbak Etri kuyup juga sebagaimana lainnya.
Karena hendak melanjutkan perjalanan ke pantai Kwaru yang hanya berjarak sekitar 5 km dari pantai Gua Cemara, maka, meskipun masih basah kuyup dan kotor oleh pasir yang menempel, kami tak hendak berganti pakaian. Tanggung, sepertinya di Kwaru bakal berbasah-basahan lagi. Rencana main bola dan game lainnya akan kami laksanakan di Kwaru yang setahu kami memiliki pesisir yang lebih datar sehingga memungkinkan untuk kami bermain.
Sampai di parkiran tempat pick up kami diparkirkan, kami tidak lantas dapat bersiap berangkat karena harus menunggu bu Nila yang tengah menunggu ikan selesai dibakar sekitar setengah jam. Lama memang, tapi tak mengapa. Toh semua itu demi kita
Tak sampai lima belas menit perjalanan, kami telah tiba di Kwaru. Secara fisik memang hampir mirip dengan pantai sebelumnya. Hanya saja, Kwaru lebih banyak pengunjungnya. Di samping lebih awal dipopulerkan, fasilitas yang ada di Kwaru jauh lebih lengkap. Mulai dari tempat ibadah, warung makan, kolam renang, dsb. Peristiwa abrasi pantai yang sempat terjadi beberapa bulan terakhir ternyata tak menyurutkan niat para wisatawan , termasuk kami, untuk berkunjung ke pantai Kwaru.
Bagaimanapun abrasi masih meninggalkan bekas-bekasnya. Beberapa pohon cemara pantai tercabut bersama akarnya, sebagian pohon juga mengalami kerusakan dengan daun yang menguning oleh air pantai yang asin yang sempat menyapu sebagian bibir pantai. Pesisir pantai yang datar yang kami bayangkan dapat digunakan untuk bermain bola pun sudah tidak nampak lagi. Air pantai telah ‘menyulapnya’ menjadi landaian yang jauh dari bayangan kami. Batallah ‘liga HAMASAH’ yang semula telah kami siapkan. Bola yang dibawa Kiki, wakil ketua HAMASAH, urung dimainkan.
Beruntungnya kami tidak kehilangan akal. Balon-balon yang telah disiapkan oleh Dewi, sang juru belanja HAMASAH, segera kami tiup satu per satu. Apalagi kalau bukan untuk permainan. Balon naga! Dengan membentuk barisan secara berbanjar, personel paling depan berusaha untuk menusukkan tusukan sate yang dipegangnya ke balon yang diikatkan ke personel kelompok lain yang paling belakang.
Dengan personil yang hanya 13 orang (tidak termasuk yang masih junior2), terbentuklah 4 kelompok yang masing2 terdiri dari 3 sampai 4 personel. Satu babak mempertandingkan dua kelompok yang pemenangnya nanti akan diadu dengan kelompok yang menang di babak lainnya. KOcaknya, di babak final yaitu antara kelompok 1 yang dikomandani oleh mbak Prapti dan kelompok 3 yang dikomadani oleh Kiki. Pada babak ini, kemenangan yang diperoleh oleh kelompok mbak Prapti bukan dikarenakan kelihaiannya mengamankan balon naga nya, bukan juga kehebatannya mengayunkan tusuk sate ke balon lawan. Tapi lebih pada aksi konyol yang dilakukan oleh sang komandan, mb Prapti, yang membentangkan kedua tangannya sambil bergoyang-goyang dan bergaya seolah-olah mau nangkap ayam (kebayang gak???). Aksinya itu tak urung membuat lawannya terpingkal-pingkal dan akhirnya kehilangan energi untuk berdiri apalagi berlari mengamankan diri. Kesempatan ini tak disia-siakan, jadilah dengan mudah balon Naga lawan diledakkan!
Selain game, di Kwaru ini kado silang yang masing-masing personel telah mempersiapkan sebelumnya, dirotasi. Kado silang senilai dua ribua-an diharuskan berupa barang yang dapat dimakan. Bukan batu, kerikill, atau semacamnya. Setelah dirotasi dan dipastikan tidak ada yang mendapat kadonya sendiri, tibalah sesi membuka kado. Mbak Novi, salah seorang personel yang sejak tadi merasa aneh dengan kado yang diterimanya, tak segera membuka sebagimana lainnya. “Kok perasaanku gak enak ya?” katanya lirih.
Karena paling terakhir membuka kado, jadilah dia pusat perhatian. “Bismilah!”
Begitu sulit dibuka karena di samping berat, bungkusnya penuh lakban di sana-sini. Akhirnya dengan perjuangan yang cukup panjang, terbukalah kado itu. Dan isinya……..BONGKAHAN GARAM DAPUR!!!
“TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK……………….!”
Apa-apaan ini?.Ada-adaaa saja!
***
Epilog:
Ya Alloh terima kasih atas kebersamaan ini. Meskipun sepulang dari rihlah ini kami lumayan pegel-pegel karena diseret dan menyeret, sama sekali tak kami rasa jika dibandingkan dengan ukhuwah indah yang Engkau anugrahkan. Berkahilah kebersamaan kami, dan himpun kami kelak di surga-Mu. Amiin.
Terima kasih (juga) untuk:
Bapak Rubikan, ketua Takmir Mushola Khusnuul Khotimah Bintaran Wetan, beserta keluarga yang telah sudi mendampingi kami, menyiapkan keperluan logistic buat kami…semuanya.
Mas Wawan atas pick up nya yang telah mengantarkan kami pada penjelajahan yang menyenangkan….
Mbak Etri, yang kalo udah sodaqoh, tidak pernah mikir bakal rugi. Apapun diberikan!
Jazaakumulloh khoiron katsiiro…
*)Mahasiswi Pertanian UGM, murobbiyah
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia










Comments
Post a Comment