25 November diperingati secara nasional sebagai hari guru (PGRI). Akan tetapi, guru dalam pengertian kami bermakna sangat luas. Guru tak hanya pendidik di sektor pendidikan formal tapi juga informal. Guru tak hanya guru sekolah, tapi guru Ngaji, guru kehidupan, dosen, tentor, Murobbi/yah, dan siapa saja yang dapat menambah kefahaman/ilmu.
Selamat Hari Guru ...
Momentum hari Guru ini tidak disiakan oleh Bidang Perempuan (Bidpuan) DPC PKS Piyungan untuk bersilaturohim ke rumah seorang Guru, tepatnya Guru Kehidupan. Kebetulan kami tidak ada yang pernah dididik langsung beliau di sekolah formal. Jum'at sore, 25 November 2011, kami: Hida, Titik, Utami dan Faiz berangkat menuju rumah beliau yang asri penuh bunga.
Namanya sudah sangat familier, bu Fatimah (bu Fat). Usianya sudah tak lagi muda, tapi semangatnya luar biasa. Beliau salah pendidik di sekolah swasta milik salah satu ormas Islam dan juga salah satu penerima PKS Awards DPC PKS Piyungan tahun 2008.
"Saya sudah 20 tahun menjadi guru. Saya belum PNS. Dan saya tidak peduli, bagi saya PNS itu amanahnya sangat berat. Biar saya PNS di surga kelak...," cerita beliau mengawali perbincangan.
Beliau dikaruniai 3 orang anak, yang pertama sudah lulus S2 dan sedang berencana melanjutkan S3 di Jepang. Anak yang kedua masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Dan bungsunya, satu-satunya perempuan masih SMA.
"Lha itu anak saya yang kedua aktif luar biasa. Di kampus ikut pengurus BEM. Dan aktif juga di PKS seperti mbak-mbak ini ...," lanjut beliau cerita tentang anak-anaknya.
"Saya mengajar kelas satu, masa peralihan dari TK. Masa yang berat, sampai-sampai saya sholat Dhuha di dalam kelas. Anak kelas satu belum bisa ditinggal, saya keluar ikut keluar, jadi solusi saya seperti itu. Tiap hari saya sapu dan pel, lalu saya gunakan untuk sholat. Saat berdo'a, suara saya keraskan. Bahkan kadang saya menyebut nama murid saya dalam berdo'a...".
Subhanalloh...lebih satu jam tak terasa lewat. Beliau banyak cerita, berbagi pengalaman menjadi guru, guru SD. Bahkan beliau menempati hati murid-muridnya, sehingga disekolah julukan beliau "Guru Selebritis" - setiap lewat selalu dikerumuni muridnya entah sekedar jabat tangan atau bertanya.
20 tahun bukan waktu sebentar sehingga pengalaman beliau luar biasa. Ditambah lagi aktifitas beliau di sebuah ormas dan pengajian. Terbukti beragam penghargaan telah beliau dapatkan. Kami jadi merasa sangat kerdil pengalaman.
"Jangan sungkan kalau mau kesini. No HP ibu masih sama tidak pernah ganti-ganti. Silaturohim itu tak harus ke yang lebih tua, ibu pun merasa perlu silaturohim ke rumah mbak-mbak ini ..."
Menjelang Maghrib, kami berpamitan. Sebuah buku kami hadiahkan kepada beliau. Hari ini, di hari Guru sebuah kisah tertorehkan. Terima kasih Guru ...
Reporter: Hida Nur Hidayah
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
Selamat Hari Guru ...
Momentum hari Guru ini tidak disiakan oleh Bidang Perempuan (Bidpuan) DPC PKS Piyungan untuk bersilaturohim ke rumah seorang Guru, tepatnya Guru Kehidupan. Kebetulan kami tidak ada yang pernah dididik langsung beliau di sekolah formal. Jum'at sore, 25 November 2011, kami: Hida, Titik, Utami dan Faiz berangkat menuju rumah beliau yang asri penuh bunga.
Namanya sudah sangat familier, bu Fatimah (bu Fat). Usianya sudah tak lagi muda, tapi semangatnya luar biasa. Beliau salah pendidik di sekolah swasta milik salah satu ormas Islam dan juga salah satu penerima PKS Awards DPC PKS Piyungan tahun 2008.
"Saya sudah 20 tahun menjadi guru. Saya belum PNS. Dan saya tidak peduli, bagi saya PNS itu amanahnya sangat berat. Biar saya PNS di surga kelak...," cerita beliau mengawali perbincangan.
Beliau dikaruniai 3 orang anak, yang pertama sudah lulus S2 dan sedang berencana melanjutkan S3 di Jepang. Anak yang kedua masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Dan bungsunya, satu-satunya perempuan masih SMA.
"Lha itu anak saya yang kedua aktif luar biasa. Di kampus ikut pengurus BEM. Dan aktif juga di PKS seperti mbak-mbak ini ...," lanjut beliau cerita tentang anak-anaknya.
"Saya mengajar kelas satu, masa peralihan dari TK. Masa yang berat, sampai-sampai saya sholat Dhuha di dalam kelas. Anak kelas satu belum bisa ditinggal, saya keluar ikut keluar, jadi solusi saya seperti itu. Tiap hari saya sapu dan pel, lalu saya gunakan untuk sholat. Saat berdo'a, suara saya keraskan. Bahkan kadang saya menyebut nama murid saya dalam berdo'a...".
Subhanalloh...lebih satu jam tak terasa lewat. Beliau banyak cerita, berbagi pengalaman menjadi guru, guru SD. Bahkan beliau menempati hati murid-muridnya, sehingga disekolah julukan beliau "Guru Selebritis" - setiap lewat selalu dikerumuni muridnya entah sekedar jabat tangan atau bertanya.
20 tahun bukan waktu sebentar sehingga pengalaman beliau luar biasa. Ditambah lagi aktifitas beliau di sebuah ormas dan pengajian. Terbukti beragam penghargaan telah beliau dapatkan. Kami jadi merasa sangat kerdil pengalaman.
"Jangan sungkan kalau mau kesini. No HP ibu masih sama tidak pernah ganti-ganti. Silaturohim itu tak harus ke yang lebih tua, ibu pun merasa perlu silaturohim ke rumah mbak-mbak ini ..."
Menjelang Maghrib, kami berpamitan. Sebuah buku kami hadiahkan kepada beliau. Hari ini, di hari Guru sebuah kisah tertorehkan. Terima kasih Guru ...
Reporter: Hida Nur Hidayah
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia



Comments
Post a Comment