Bila seorang hamba datang kepada Allah SWT dengan kehendak hati yang tulus maka Allah SWT akan mengimbanginya.
Bahkan Tuhan akan memberikan pujian yang agung kepada dirinya. Tuhan bersedia menjadi pendengaran, penglihatan, pengucapan dan tindakan dari hambatan tersebut.
Bagi manusia yang mencapai hakikat pemujaan maka dia akan memperoleh wujud sifat jamal Allah atau keindahan Allah. Hidupnya akan terasa bahagia, meskipun harta benda hanya pas-pasan.
Harta benda diperlukan hanya untuk memberikan kemudahan dalam hidupnya di dunia. Namun, kebahagiaannya sendiri bukan karena harta harta bendanya itu.
Kita akan kecewa bila menggantungkan kebahagiaan.pada pemilikan harta benda. Karena semua yang ada di dunia ini maya. Seandainya harta benda itu tampak tetap tidak berubah maka kitalah yang berubah.
Ketuaan kita akan mengikis kebahagiaan yang dipancarkan oleh harta benda. Seandainya kita merasa tetap tidak merasa tua maka perasaan kita terhadap harta benda itu sendiri yang berubah. Inilah hukum kepuasan.
Allah adalah sumber kebahagiaan.
Sumber kedamaian.
Sumber keselamatan.
Meskipun demikian, rasa di dalam batinlah yang bisa menangkap kebahagiaan itu.
Hakikat rasa adalah tumbuhnya kemampuan untuk merasakan kehadiran Allah SWT. Kemampuan untuk merasakan kehadiran Allah SWT.
Kemampuan untuk menghadap di Hadirat Allah SWT sehingga Sang jiwa menjadi menyadari sepenuhnya bahwa hidup ini telah memiliki potensi semenjak lahir dan menjadi orang yang tidak ragu-ragu dalam hidup; bahwa hidup yang dijalani dengan jujur dan besar di dunia ini akan membuahkan rezeki yang berkecukupan dan halal.
Rezeki yang tidak disangka-sangka datangnya tanpa susah payah.
Ini merupakan buah hasil ketaqwaan !
Masing-masing diri setiap orang memiliki bakat yang dibawa semenjak lahir. Dikarenakan banyak diantara diri kita yang terbelenggu gebyarnya dunia, hingga membuat terangnya hidup kita, melainkan pancaran hati sejati yang membuat terang benderangnya hidup ini. Dikarenakan pancaran wajah Ilahi itulah yang memasuki dalamnya rasa sehingga kebahagiaan terpancar dari dalam diri setiap hati manusia yang terdalam.
Bukan harta berupa uang dan benda, serta tahta tempat kita menghadap. Itu semua akan lekang oleh waktu pada masa tertentu nanti akan hilang nilainya, terutama dengan nilai uang.
Sesungguhnya uang itu secara interistik tidak mempunyai nilai. Kita sendiri yang memberi nilai. Mengapa kita tertipu oleh angan-angan kita sendiri ? Ya, karena kita tidak tahu kepada siapa sebenarnya kita harus menghadap.
Kita harus menghadap realitas mutlak kebenaran sejati yang terletak di dalam diri kita sendiri sehingga hamba menyatu dengan Allah, baik di dunia maupun di akhirat nanti.
Yang kita hadap ada di dalam diri sendiri, tetapi wajah-Nya terpancar di sentro jagad. Kemana saja kita menghadap niscaya kita menghadap kepada wajah-Nya.
”Dan, kepunyaan Allah timur dan barat itu. Maka, kemana saja kalian menghadap, di situlah wajah Allah sungguh Dia Mahaluas dan Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah (2) : 115 )
Hakikat lainnya itu maya dan kosong belaka. Ke dalam diri kita menghadap Allah SWT, ke luar, ke sekeliling kita, ke mana saja jangkauan mata memandang hanya kepada Allah kita melihat.
”Dia adalah yang tidak berawal dan berakhir. Dia adalah yang tampak dan yang batin.” (QS.Al-Hadid (57) : 3)
Karena itu seorang hamba harus bisa menghadap dengan benar, dan didorong dari dalam hatinya untuk tanpa pamrih.
Dengan mengatasi permasalaha yang kecil; maka
kita dapat mengatasi permasalahan yang besar
Ejawantah's Blog @ 2011



Comments
Post a Comment