Kata temanku, aku sedang keranjingan menulis. Yah, itu memang benar. Mungkin ini akibat dari dendam positif karena dari semenjak sekolah nilai karanganku selalu pas-pasan, paling tinggi enam setengah. Sehingga ketika aku gabung ke facebook, apalagi berteman dengan beberapa penulis, aku sangat senang. Karenanya, aku menjadi semangat menulis. Komunitas-komunitas kepenulisan aku ikuti. Grup-grup menulis terbuka aku masuki. Lomba-lomba yang bejibun di facebook aku kejar. Kadang lolos seleksi, kadang gagal. Namun tak membuatku patah semangat.
Nah, suatu hari, aku mendapatkan notifikasi bahwa aku tergabung dalam grup “Ibu-ibu Doyan Nulis Interaktif” pada pertengahan bulan april oleh Mbak Evi Andriani. Serasa terhipnotis, aku langsung mengunjungi grup itu. Dan, Wow, keren…grup khusus penulis ibu-ibu. Saat itu anggotanya masih dua ratusan. Hampir setiap hari aku pantengi grup yang setiap hari selalu bertambah anggotanya. Tak ingin rasanya ketinggalan berita dari emak-emak aktif. Terlambat satu hari saja, bak ketinggalan kereta, sampai ‘ngos-ngosan’ mengejarnya.
Banyak tawaran-tawaran menulis di sana. Salah satunya tawaran dari Ibu Eni untuk menuliskan tentang Cobek Digital Emak yang akan dibukukan secar indie melalui MOMS Creatif Writer, sebagai bahan pembelajaran kami. Tanpa komando, aku langsung menuliskan sebuah naskah. Ada juga tawaran menulis naskah atau buku dari penerbit-penerbit yang dikelola oleh Mbak Indari, salah satunya INDSCRIPT CREATIVE.
Oleh karenanya, ketika ibu ketua, Mbak Indari Mastuti yang energik mengutuskan untuk membuat grup per wilayah, aku segera membuat grup “IIDN Tasikmalaya” meski aku bukan asli orang Tasikmalaya. Dengan harapan menyatukan orang Tasikmalaya dan sekitarnya yang semangat menulis dan mengajak teman-temannya untuk bergabung dengan IIDN Tasikmalaya. Alhamdulillah, responnya sangat baik.
Dan yang membuat aku semakin merasa dekat dengan grup yang kini anggotanya dalam sebulan telah mencapai jumlah 1600-an, juga memberiku sebuah kenangan indah, adalah ketika aku mengikuti pelatihan menulis dan kopdar bersama IIDN Bandung pada hari sabtu tanggal 30 April 2011.
Terus terang, grup ini selain membuat semangat menulis, juga telah membuatku memberanikan diri menjelajahi kota Bandung sendirian. Biasanya, aku pergi ditemani suami atau teman. Kalau pun sendiri, harus naik travel agar dapat sampai tujuan tanpa tersesat. Pada awalnya aku pergi ke bandung hari jumat bersama dua orang teman karena kebetulan ada acara juga di Bumi Perkemahan “Bumi Kitri”.
Nah, pagi-pagi, sesudah mandi, makan, lalu siap-siap berangkat menuju medan perang…ups, menuju gedung Museum Geologi. Dengan membaca basmalah, aku berharap tidak tersesat. Dari Bumi Kitri, aku berjalan menuju ke jalan raya. Sengaja pergi lebih pagi, karena tidak tahu tempatnya. Pertama, dari jalan raya Bumi Kitri naik angkot jurusan Kalapa-Caheum, turun di perempatan lalu naik angkot lagi jurusan Cicaheum-Ledeng. Bak anak kecil, setiap naik angkot, aku minta ke supirnya untuk diturunkan di tempat yang dituju.
Tak seperti yang kubayangkan, ternyata tempatnya tidak begitu jauh dan masih pagi sehingga tidak tertabrak macet. Kurang lebih pukul delapan, sampailah aku di depan gedung Museum Geologi. Sembari menunggu pintu museum di buka, kunikmati pemandangan yang hampir seluruh tamannya dihiasi oleh batu-batuan purbakala dan mesin-mesin tua.
Setengah jam kemudian, bertemulah aku dengan mbak Dydie lalu kami masuk menuju lantai dua. Beberapa menit
kemudian mulailah berdatangan para peserta dan yang sangat ditunggu-tunggu, ibu ketua sekaligus pemateri, Mbak Indari Mastuti. Tidak salah lagi, seperti yang kulihat dalam grup, Mbak Indari yang kerap dipanggil Mbak Iin, orangnya memang sangat energik, modis, ramah, juga cantik. Beliau benar-benar menginspirasi kami melalui apa yang disampaikannya. Cara penyampaiannya pun sangat mudah di terima.
Meski waktunya singkat, hanya sampai setengah dua belas, serasa sangat bernyawa. Pelatihan yang lebih banyak terisi dengan diskusi-diskusi, memberikan kehangatan suasana dan kesegaran semangat untuk selalu menulis. Mendengarkan wejangan-wejangan dari Mbak Indari tentang menangkap ide-ide, membuat kutenggelam dalam suasana menangkap ide-ide yang tiba-tiba bermunculan di atas kepalaku yang langsung kutulis dalam sebuah notes kecil.
Suasana semakin riuh ketika ratu antologi, Lygia Nostalina maju ke depan untuk memberikan pengarahan tentang seputar antologi. Juga penulis “Ada Apa dengan Otak Tengah”, teh Nia Haryanto yang sekilas membahas bagaimana cara menulis cepat. Apalagi dapat kopdar dengan teh Nurjanah Yahya, berkenalan dengan Mbak Vita, Mbak Asri, Mbak Honey, Teh Ida tahmidah, dan emak-emak lainnya. Kita poto-poto bersama, narsis bareng. Seruuuuuuuuuu, pokoknya!
Ketika peserta mulai bubar, sejenak aku belajar tentang mengetahui kepribadian melalui tulisan tangan yang dipandu oleh Ibu Vivera. Setelah itu, kami bertiga, aku, Lygia, dan Adjeng bercengkrama cukup lama sekitar satu jam di bawah sebuah pohon dekat pintu keluar dengan diselingi makan cilok, hehehe... Ahh, rasanya enggan beranjak dari tempat itu jika waktu tidak memburuku.
Di tengah perjalanan pulang, aku menemukan sebuah pelajaran. Ceritanya ketika sedang menunggu angkot di perempatan, ada beberapa pengamen. Tidak bermaksud berburuksangka, sekedar berhati-hati. Namun rupanya salah satu pengamen itu mengamati wajahku yang terlihat kebingungan. Memang aku bingung, aku lupa, seharusnya naik angkot dari aku berdiri atau dari seberang jalan?
Kemudian si pengamen itu bertanya, “Teh, mau kemana?”
“Hmm, Bumi Kitri” jawabku singkat sembari berupaya menyeberang. Dengan cepat si pengamen mencegahku.
“Teh, kalau mau ke Bumi Kitri tidak usah menyebrang, naik dari sini pake yang 01.”
“Kata temanku, harus menyeberang dulu, yang benar yang mana yah?” tanyaku yang menjadi kalut.
“Sama Teh, tapi dari sini lebih deket!” jelasnya sembari menghentikan angkot 01 yang kebetulan lewat.
“Mangga, Teh!”
Aku segera masuk angkot, mencoba mempercayai si pengamen tanpa menolaknya. Dan benar, ternyata dekat sekali, hanya seperempat perjalanan. Hmm, Baru kali ini aku mengagumi seorang pengamen karena kebaikannya.
Sungguh sebuah ekpedisi luar biasa. Satu hari penuh makna. Semua ini karena grup “Ibu-ibu Doyan Nulis Ineraktif. I love you full, IIDNI … ^_^
Tasikmalaya, 17 Mei 2011
*)Irzi Azzahra, kader ummahat PKS Tasikmalaya kelahiran Tegal
*posted: pkspiyungan.blogspot.com
Nah, suatu hari, aku mendapatkan notifikasi bahwa aku tergabung dalam grup “Ibu-ibu Doyan Nulis Interaktif” pada pertengahan bulan april oleh Mbak Evi Andriani. Serasa terhipnotis, aku langsung mengunjungi grup itu. Dan, Wow, keren…grup khusus penulis ibu-ibu. Saat itu anggotanya masih dua ratusan. Hampir setiap hari aku pantengi grup yang setiap hari selalu bertambah anggotanya. Tak ingin rasanya ketinggalan berita dari emak-emak aktif. Terlambat satu hari saja, bak ketinggalan kereta, sampai ‘ngos-ngosan’ mengejarnya.
Banyak tawaran-tawaran menulis di sana. Salah satunya tawaran dari Ibu Eni untuk menuliskan tentang Cobek Digital Emak yang akan dibukukan secar indie melalui MOMS Creatif Writer, sebagai bahan pembelajaran kami. Tanpa komando, aku langsung menuliskan sebuah naskah. Ada juga tawaran menulis naskah atau buku dari penerbit-penerbit yang dikelola oleh Mbak Indari, salah satunya INDSCRIPT CREATIVE.
Oleh karenanya, ketika ibu ketua, Mbak Indari Mastuti yang energik mengutuskan untuk membuat grup per wilayah, aku segera membuat grup “IIDN Tasikmalaya” meski aku bukan asli orang Tasikmalaya. Dengan harapan menyatukan orang Tasikmalaya dan sekitarnya yang semangat menulis dan mengajak teman-temannya untuk bergabung dengan IIDN Tasikmalaya. Alhamdulillah, responnya sangat baik.
Dan yang membuat aku semakin merasa dekat dengan grup yang kini anggotanya dalam sebulan telah mencapai jumlah 1600-an, juga memberiku sebuah kenangan indah, adalah ketika aku mengikuti pelatihan menulis dan kopdar bersama IIDN Bandung pada hari sabtu tanggal 30 April 2011.
Terus terang, grup ini selain membuat semangat menulis, juga telah membuatku memberanikan diri menjelajahi kota Bandung sendirian. Biasanya, aku pergi ditemani suami atau teman. Kalau pun sendiri, harus naik travel agar dapat sampai tujuan tanpa tersesat. Pada awalnya aku pergi ke bandung hari jumat bersama dua orang teman karena kebetulan ada acara juga di Bumi Perkemahan “Bumi Kitri”.
Nah, pagi-pagi, sesudah mandi, makan, lalu siap-siap berangkat menuju medan perang…ups, menuju gedung Museum Geologi. Dengan membaca basmalah, aku berharap tidak tersesat. Dari Bumi Kitri, aku berjalan menuju ke jalan raya. Sengaja pergi lebih pagi, karena tidak tahu tempatnya. Pertama, dari jalan raya Bumi Kitri naik angkot jurusan Kalapa-Caheum, turun di perempatan lalu naik angkot lagi jurusan Cicaheum-Ledeng. Bak anak kecil, setiap naik angkot, aku minta ke supirnya untuk diturunkan di tempat yang dituju.
Tak seperti yang kubayangkan, ternyata tempatnya tidak begitu jauh dan masih pagi sehingga tidak tertabrak macet. Kurang lebih pukul delapan, sampailah aku di depan gedung Museum Geologi. Sembari menunggu pintu museum di buka, kunikmati pemandangan yang hampir seluruh tamannya dihiasi oleh batu-batuan purbakala dan mesin-mesin tua.
Setengah jam kemudian, bertemulah aku dengan mbak Dydie lalu kami masuk menuju lantai dua. Beberapa menit
kemudian mulailah berdatangan para peserta dan yang sangat ditunggu-tunggu, ibu ketua sekaligus pemateri, Mbak Indari Mastuti. Tidak salah lagi, seperti yang kulihat dalam grup, Mbak Indari yang kerap dipanggil Mbak Iin, orangnya memang sangat energik, modis, ramah, juga cantik. Beliau benar-benar menginspirasi kami melalui apa yang disampaikannya. Cara penyampaiannya pun sangat mudah di terima.
Meski waktunya singkat, hanya sampai setengah dua belas, serasa sangat bernyawa. Pelatihan yang lebih banyak terisi dengan diskusi-diskusi, memberikan kehangatan suasana dan kesegaran semangat untuk selalu menulis. Mendengarkan wejangan-wejangan dari Mbak Indari tentang menangkap ide-ide, membuat kutenggelam dalam suasana menangkap ide-ide yang tiba-tiba bermunculan di atas kepalaku yang langsung kutulis dalam sebuah notes kecil.
Suasana semakin riuh ketika ratu antologi, Lygia Nostalina maju ke depan untuk memberikan pengarahan tentang seputar antologi. Juga penulis “Ada Apa dengan Otak Tengah”, teh Nia Haryanto yang sekilas membahas bagaimana cara menulis cepat. Apalagi dapat kopdar dengan teh Nurjanah Yahya, berkenalan dengan Mbak Vita, Mbak Asri, Mbak Honey, Teh Ida tahmidah, dan emak-emak lainnya. Kita poto-poto bersama, narsis bareng. Seruuuuuuuuuu, pokoknya!
Ketika peserta mulai bubar, sejenak aku belajar tentang mengetahui kepribadian melalui tulisan tangan yang dipandu oleh Ibu Vivera. Setelah itu, kami bertiga, aku, Lygia, dan Adjeng bercengkrama cukup lama sekitar satu jam di bawah sebuah pohon dekat pintu keluar dengan diselingi makan cilok, hehehe... Ahh, rasanya enggan beranjak dari tempat itu jika waktu tidak memburuku.
Di tengah perjalanan pulang, aku menemukan sebuah pelajaran. Ceritanya ketika sedang menunggu angkot di perempatan, ada beberapa pengamen. Tidak bermaksud berburuksangka, sekedar berhati-hati. Namun rupanya salah satu pengamen itu mengamati wajahku yang terlihat kebingungan. Memang aku bingung, aku lupa, seharusnya naik angkot dari aku berdiri atau dari seberang jalan?
Kemudian si pengamen itu bertanya, “Teh, mau kemana?”
“Hmm, Bumi Kitri” jawabku singkat sembari berupaya menyeberang. Dengan cepat si pengamen mencegahku.
“Teh, kalau mau ke Bumi Kitri tidak usah menyebrang, naik dari sini pake yang 01.”
“Kata temanku, harus menyeberang dulu, yang benar yang mana yah?” tanyaku yang menjadi kalut.
“Sama Teh, tapi dari sini lebih deket!” jelasnya sembari menghentikan angkot 01 yang kebetulan lewat.
“Mangga, Teh!”
Aku segera masuk angkot, mencoba mempercayai si pengamen tanpa menolaknya. Dan benar, ternyata dekat sekali, hanya seperempat perjalanan. Hmm, Baru kali ini aku mengagumi seorang pengamen karena kebaikannya.
Sungguh sebuah ekpedisi luar biasa. Satu hari penuh makna. Semua ini karena grup “Ibu-ibu Doyan Nulis Ineraktif. I love you full, IIDNI … ^_^
Tasikmalaya, 17 Mei 2011
*)Irzi Azzahra, kader ummahat PKS Tasikmalaya kelahiran Tegal
*posted: pkspiyungan.blogspot.com





Comments
Post a Comment