PKS Mencetak Murobbiyah Sejuta Kader

Reporter: Hida Nur Hidayah*
Mengabaikan gonjang ganjing di luar sana, Bidang Kaderisasi Akhwat DPC PKS Piyungan kembali menunjukkan kerja nyata sebagai salahsatu realisasi hasil Mukernas PKS untuk "Mencetak Sejuta Kader Baru" dengan menggelar acara DAUROH MUROBBIYAH.

Kalaulah selama ini kader banyak “memberi”, maka Ahad pagi, 6 Maret 2011 kader gantian “diberi” materi. Bukan materi dalam bentuk rupiah, akan tetapi materi keilmuan yang diharapkan menjadi bekal kader dalam membina masyarakat, baik da’wah khossoh maupun da’wah ammah. Acara ini dikemas dengan nama Dauroh Murobbiyah.

Sekedar me-review kembali. Beberapa waktu yang silam Kaderisasi Akhwat juga pernah menyelenggarakan acara yang sama, dengan titik materi dan pembicara yang berbeda. Acara seperti ini memang rencananya akan dilaksanakan secara rutin per dua bulan dengan materi yang berbeda, dengan peserta kader yang sedang atau sudah siap membina.

Bertempat di Balai Desa Srimulyo jalan Jogja-Wonosari, hadir 28 akhwat dan ummahat siap menerima materi dalam dauroh Murobbiyah kali ini. Pukul 08.30 acara dimulai dengan tilawah Al Qur’an beberapa ayat awal dari Qur’an surat Al Mudatstsir. Setelah selesai, dilanjutkan sambutan dari Bidang Kaderisasi Akhwat DPC PKS Piyungan yang diwakili oleh Ibu Tri Wuryani.

Dalam sambutannya, Bu Tri –demikian sapaan beliau– menyampaikan bahwa dengan semakin luasnya bidang garapan da’wah, maka da’wah membutuhkan kader-kader yang siap membina, tidak hanya siap dibina. Sudah saatnya kader-kader yang selama ini menumpuk ilmu keluar untuk membagi ilmu yang dimilikinya.

“Contohnya anak-anak saya sudah remaja, sekarang giliran yang pernah saya bina gantian membina anak saya. Remaja itu pas-nya dibina dengan akhwat juga. Kalau yang pegang ibu-ibu, persepsinya seperti ibunya. Tidak boleh ini, Tidak boleh itu. Ini siapa, itu siapa. Selain itu ibu-ibu juga banyak yang kurang memahami “maunya” anak muda jaman sekarang. Remaja-nya hoby internet, ibu-ibu banyak juga yang tidak bisa internet.....,” ungkap ummahat sesepuh di Piyungan ini.

Usai sambutan dilanjutkan Materi Inti. Seorang ummahat aktifis da’wah yang sudah tidak diragukan lagi pengalaman dan kiprahnya, didatangkan dari luar Bantul, yaitu Kodya Jogjakarta. Ummu Nafisa atau yang akrab di sapa Mbak Noe. Bagi yang aktif FLP (Forum Lingkar Pena) tentu sudah tidak asing dengan beliau.

“Maaf terlambat karena tadi keblasuk sampai Pasar Piyungan....,” ungkap beliau membuka pembicaraan.

Selama 1,5 jam, Mbak Noe menyampaikan tiga point penting, yaitu Fokus da’wah (Khosh wa ammah), Ulum Marhalah (bidang studi) dan Muwasofat. Peserta dibuat terpesona dan terdiam mendengar uraian beliau yang disertai contoh-contoh lapangan beliau di wilayah Kodya Jogja. Sesaat keseriusan forum pecah dengan "ice breaking" yaitu dua orang ummahat yang tiba-tiba berlarian di halaman menuju jalan. Rupanya ada balita yang mencoba berlari ke arah jalan raya, jalan Jogja-Wonosari yang saat itu ramai lalu lalang kendaraan. Peserta banyak yang kaget dan ikut gemetar.

Setelah tenang, acara dilanjutkan hingga pukul 11.00 kemudian diadakan workshop, guna menilai penerimaan peserta akan materi yang disampaikan, analisis lapangan sekaligus uji coba (micro teaching). Workshop dilakukan secara berkelompok, dengan jumlah 5-6 peserta per kelompok. Rupanya banyak yang disampaikan, hingga hasil perkelompok tidak sempat dikomper antar kelompok satu dengan yang lain.

Secara umum, banyak diantara peserta yang sudah membina tidak mempunyai pegangan kisi-kisi muwashofat, dan bidang studi yang dapat digunakan mencapai muwashofat, sehingga selama ini materi cenderung mengalir tanpa arah, jadi apa yang siap diberikan dan apa yang diminta peserta. Kendala lain adalah bahasa. Meskipun sama-sama orang Jawa, kader banyak yang kesulitan menggunakan bahasa Jawa halus sebagai bahasa komunikasi dengan kalangan yang lebih tua.

Dari Workshop disimpulkan kader peserta muayyid menjadi mengerti arti penting muwashofat dan membutuhkan panduan yang jelas untuk mencapainya. Dan ini menjadi PR Kaderisasi agar dibuatkan panduan materi/silabus untuk segmen ibu-ibu, remaja dan anak-anak. Acara seperti ini menjadi penting baik bagi bidang kaderisasi maupun kader, dan semoga kedepan dapat dilakukan tiap dua bulan sekali sesuai rencana, dengan materi dan pembicara yang berbeda.

*posted: pkspiyungan.blogspot.com

Comments