by: abuhasan surhim---
“tek tek tek…. tek tek…. “
Suara nyaring di luar rumah menghentikan sejenak obrolan kami. Saya yang tengah menemani istri nyetrika seketika keluar rumah.
“Pak… sini…,” kupanggil tukang siomay yang lewat depan rumah.
“Siapa yang mau siomay..?” tawaran yang langsung diserbu anak-anak.
“Berapaan ini pak?” tanyaku.
“gangsalatus satunggal (@lima ratus),” jawab tukang siomay sambil menstandar sepeda ontelnya. Bronjong berisi aneka siomay yang ditaruh di bagian belakang sepeda kiri kanan segera dibuka.
“anak-anak seribu lima ratusan ya?” serentak empat kakak beradik mengangguk riang. “aku kentang dua, satunya bakso,” Aliyah yang terkecil mendapat giliran pertama memilih menu siomay yang dibungkus plastik.
“aku sama dengan aliyah,” sahut Ali kakaknya.
“kentang satu, tahu basah satu, satunya lagi bakso,” kali ini giliran Hanifah.
“aku kentang satu, baksonya dua,” Yasmin menimpali.
Kuminta anak-anak mengambil dua piring untuk siomay umi dan aku.
Sambil mengulurkan uang dua belas ribu kumulai membuka ta'aruf dengan tukang siomay. Pria lajang kelahiran Wonosobo ini ternyata baru sebulan ‘terdampar’ di Jogja.
“Pokoknya bermodal nekat saya ke Jogja,” ujar mas Musitip ketika kutanya asbabunnuzul ke Jogja.
“Jam enam pagi saya naik bus dari Wonosobo, sampai di Terminal Jogja sekitar pukul sepuluh pagi,” lanjutnya.
“Memang punya keluarga atau ada pekerjaan di Jogja?” selaku.
“Ndak ada. Pokoknya nanti cari kerjaan apa saja sesampai di Jogja. Di rumah sudah pusing tidak ada pekerjaan. Paling ngarit cari rumput,” beber pria kelahiran ’85 ini.
“Sampai jam sepuluh malam saya belum dapat pekerjaan. Bingung juga mau tidur dimana,” ceritanya saat kutanya kok dapat pekerjaan jualan siomay keliling.
“Pas lagi bingung ada tukang siomay lewat. Langsung saya hadang,” sambungnya. Tanpa sungkan dia bertanya apa ada lowongan kerjaan jualan siomay di tempat mangkalnya.
“Wah kalau di tempat saya sudah penuh. Tapi, kayaknya di tempat teman saya ada lowongan,” ujar Musitip menirukan ucapan ‘juru selamat-nya’ malam itu. Singkat kata malam itu juga dia dibawa ke tempat Pangkalan tukang siomay milik mas Har dari Purbalingga. Sejak itulah pria drop-outan kelas 4 sd ini tinggal disitu dan bekerja menjajakan siomay keliling bersepeda dengan keuntungan seratus perak per biji siomay.
“Ya lumayan. Kalau lagi rame bisa dapat dua puluh ribu sehari. Tapi kalau lagi sepi paling tujuh ribu,” ujarnya sambil mengeluarkan botol air putih dari bronjongnya saat kutanya berapa penghasilannya. Sehari-hari keliling berjualan, Musitip hanya berbekal sebotol air putih plus sebungkus sigaret. Urusan makan dia hanya mengenal dua waktu. Pagi sebelum berangkat dan nanti malam hari kala balik ke pangkalan. Untuk jatah makan ini ditanggung oleh juragan.
Anak sulung tiga bersaudara ini senang kerja jualan siomay karena bisa dapat uang tiap hari. Beda dengan kalau di kampung, baru bisa ‘megang’ uang kalau panen. “Lumayan bisa buat beli rokok dan dikit-dikit ditabung,” tambahnya sambil mengepulkan gudang garam filter yang barusan diambil dari laci kecil bronjong sepedanya.
“Terus, sholatnya gimana mas?” tanyaku setelah lumayan akrab.
“Wah terus terang nggih pak, jujur saja saya ngak mau bohong, saya masih bolang-bolong. Terutama shubuh. Pulang kerja jam sepuluh malam ngontel seharian badan capek banget. Bangun-bangun sudah jam setengah enam pagi,” jujur dan polos Musitip menjelaskan. Pasti capek lah keliling berpuluh kilometer dari jam sebelas siang sampai sepuluh malam, batinku. Berpuluh kilometer? Betul. Jarak tempat mangkalnya yang berada di jalan imogiri 1 Bantul dengan rumah tempat tinggalku lebih sepuluh kilometer.
“Kalau kita bangun kesiangan jam berapa saja bangunnya kita masih boleh sholat shubuh. Daripada tidak dikerjakan. Insya Allah kalau kita rajin sholat rejeki kita barokah.," ujarku dengan tersenyum. "Kalau lagi keliling juga mampir ke mushola atau masjid begitu terdengar adzan”, lanjutku. Kulihat Musitip serius mendengarkan.
“Insya Allah pak. Matur suwun.” Ujarnya mantap.
Alunan adzan ashar dari mushola mengakhiri obrolan kami. Dengan sigap Musitip mengayuh sepedanya. Kulihat di bagian kiri bronjong "siomay" nya tertulis jelas dengan cat merah “Laskar Pemburu Receh”.
----
Selang sehari, saya kaget ketemu lagi dengan Musitip. Kulihat sepeda siomay "Laskar Pemburu Receh"-nya sudah terparkir di depan mushola kampungku. Kusapa dan berbalas senyum ceria sambil dia bersiap-siap wudhu.
“Allahu Akbar,” takbirotul ihrom sholat maghrib berkumandang.
Musitip khusyu berbaris di shof pertama dari dua shof laki-laki.
…
Wahai Tuhan jauh sudah
Lelah kaki melangkah
Aku hilang tanpa arah
Rindu hati sinarmu
Wahai Tuhan aku lemah
Hina berlumur noda
Hapuskanlah …..
Terangilah Jiwa di hitam jalanku
Ampunkanlah aku
Trimalah tobatku
Sesungguhnya engkau
Sang Maha pengampun dosa
Ya robbi ijinkanlah
Aku kembali padamu
Meski mungkin takkan sempurna
Aku sebagai hambaMu
Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali ..
Kembali kepadamu
Dan meski tak layak sujud padamu
Dan sungguh tak layak aku.....
[taubat - opick]
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com
“Pak… sini…,” kupanggil tukang siomay yang lewat depan rumah.
“Siapa yang mau siomay..?” tawaran yang langsung diserbu anak-anak.
“Berapaan ini pak?” tanyaku.
“gangsalatus satunggal (@lima ratus),” jawab tukang siomay sambil menstandar sepeda ontelnya. Bronjong berisi aneka siomay yang ditaruh di bagian belakang sepeda kiri kanan segera dibuka.
“anak-anak seribu lima ratusan ya?” serentak empat kakak beradik mengangguk riang. “aku kentang dua, satunya bakso,” Aliyah yang terkecil mendapat giliran pertama memilih menu siomay yang dibungkus plastik.
“aku sama dengan aliyah,” sahut Ali kakaknya.
“kentang satu, tahu basah satu, satunya lagi bakso,” kali ini giliran Hanifah.
“aku kentang satu, baksonya dua,” Yasmin menimpali.
Kuminta anak-anak mengambil dua piring untuk siomay umi dan aku.
Sambil mengulurkan uang dua belas ribu kumulai membuka ta'aruf dengan tukang siomay. Pria lajang kelahiran Wonosobo ini ternyata baru sebulan ‘terdampar’ di Jogja.
“Pokoknya bermodal nekat saya ke Jogja,” ujar mas Musitip ketika kutanya asbabunnuzul ke Jogja.
“Jam enam pagi saya naik bus dari Wonosobo, sampai di Terminal Jogja sekitar pukul sepuluh pagi,” lanjutnya.
“Memang punya keluarga atau ada pekerjaan di Jogja?” selaku.
“Ndak ada. Pokoknya nanti cari kerjaan apa saja sesampai di Jogja. Di rumah sudah pusing tidak ada pekerjaan. Paling ngarit cari rumput,” beber pria kelahiran ’85 ini.
“Sampai jam sepuluh malam saya belum dapat pekerjaan. Bingung juga mau tidur dimana,” ceritanya saat kutanya kok dapat pekerjaan jualan siomay keliling.
“Pas lagi bingung ada tukang siomay lewat. Langsung saya hadang,” sambungnya. Tanpa sungkan dia bertanya apa ada lowongan kerjaan jualan siomay di tempat mangkalnya.
“Wah kalau di tempat saya sudah penuh. Tapi, kayaknya di tempat teman saya ada lowongan,” ujar Musitip menirukan ucapan ‘juru selamat-nya’ malam itu. Singkat kata malam itu juga dia dibawa ke tempat Pangkalan tukang siomay milik mas Har dari Purbalingga. Sejak itulah pria drop-outan kelas 4 sd ini tinggal disitu dan bekerja menjajakan siomay keliling bersepeda dengan keuntungan seratus perak per biji siomay.
“Ya lumayan. Kalau lagi rame bisa dapat dua puluh ribu sehari. Tapi kalau lagi sepi paling tujuh ribu,” ujarnya sambil mengeluarkan botol air putih dari bronjongnya saat kutanya berapa penghasilannya. Sehari-hari keliling berjualan, Musitip hanya berbekal sebotol air putih plus sebungkus sigaret. Urusan makan dia hanya mengenal dua waktu. Pagi sebelum berangkat dan nanti malam hari kala balik ke pangkalan. Untuk jatah makan ini ditanggung oleh juragan.
Anak sulung tiga bersaudara ini senang kerja jualan siomay karena bisa dapat uang tiap hari. Beda dengan kalau di kampung, baru bisa ‘megang’ uang kalau panen. “Lumayan bisa buat beli rokok dan dikit-dikit ditabung,” tambahnya sambil mengepulkan gudang garam filter yang barusan diambil dari laci kecil bronjong sepedanya.
“Terus, sholatnya gimana mas?” tanyaku setelah lumayan akrab.
“Wah terus terang nggih pak, jujur saja saya ngak mau bohong, saya masih bolang-bolong. Terutama shubuh. Pulang kerja jam sepuluh malam ngontel seharian badan capek banget. Bangun-bangun sudah jam setengah enam pagi,” jujur dan polos Musitip menjelaskan. Pasti capek lah keliling berpuluh kilometer dari jam sebelas siang sampai sepuluh malam, batinku. Berpuluh kilometer? Betul. Jarak tempat mangkalnya yang berada di jalan imogiri 1 Bantul dengan rumah tempat tinggalku lebih sepuluh kilometer.
“Kalau kita bangun kesiangan jam berapa saja bangunnya kita masih boleh sholat shubuh. Daripada tidak dikerjakan. Insya Allah kalau kita rajin sholat rejeki kita barokah.," ujarku dengan tersenyum. "Kalau lagi keliling juga mampir ke mushola atau masjid begitu terdengar adzan”, lanjutku. Kulihat Musitip serius mendengarkan.
“Insya Allah pak. Matur suwun.” Ujarnya mantap.
Alunan adzan ashar dari mushola mengakhiri obrolan kami. Dengan sigap Musitip mengayuh sepedanya. Kulihat di bagian kiri bronjong "siomay" nya tertulis jelas dengan cat merah “Laskar Pemburu Receh”.
----
Selang sehari, saya kaget ketemu lagi dengan Musitip. Kulihat sepeda siomay "Laskar Pemburu Receh"-nya sudah terparkir di depan mushola kampungku. Kusapa dan berbalas senyum ceria sambil dia bersiap-siap wudhu.“Allahu Akbar,” takbirotul ihrom sholat maghrib berkumandang.
Musitip khusyu berbaris di shof pertama dari dua shof laki-laki.
…
Wahai Tuhan jauh sudah
Lelah kaki melangkah
Aku hilang tanpa arah
Rindu hati sinarmu
Wahai Tuhan aku lemah
Hina berlumur noda
Hapuskanlah …..
Terangilah Jiwa di hitam jalanku
Ampunkanlah aku
Trimalah tobatku
Sesungguhnya engkau
Sang Maha pengampun dosa
Ya robbi ijinkanlah
Aku kembali padamu
Meski mungkin takkan sempurna
Aku sebagai hambaMu
Berikanlah aku kesempatan waktu
Aku ingin kembali ..
Kembali kepadamu
Dan meski tak layak sujud padamu
Dan sungguh tak layak aku.....
[taubat - opick]
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com


Comments
Post a Comment