Dunia Memang Sempit

Oleh Cahyadi Takariawan*
Tidak saya sangka sama sekali, setelah mengisi acara di Houston, Texas, seorang peserta pengajian menceritakan bahwa ada teman lama saya yang tengah menempuh pendidikan S-3 di Houston. Mbak Rahmawati Husein, aktivis sejak masih kuliah di UGM, teman berkegiatan di Gelanggang Mahasiswa UGM sekitar tahun 1986 – 1989. Setelah lama tidak bertemu, mbak Amah yang sekarang menjadi dosen UMY dan tinggal di Deresan, Sleman, Yogyakarta, justru bertemu lagi di negeri orang.

Setelah saling mengontak, akhirnya dipertemukan juga oleh Allah. Masyaallah, benar-benar tidak menyangka. Sama-sama orang Yogyakarta, justru bertemu lagi di kantor KJRI Houston. Bahagia sekali dan saling tertawa. Di Yogyakarta justru tidak pernah bertemu, karena kesibukan di titik yang berbeda. Masing-masing asyik dengan kesibukannya, pada orbit kegiatannya, sehingga justru tidak pernah berjumpa, walaupun satu kota tempat tinggal. Alhamdulillah, Allah sambungkan lagi silaturahim dengan seorang teman lama.

Kejadian serupa saya alami saat pertama datang di Amerika, saya mendarat di San Fransisco. Dijemput mas Yusuf dan isteri beliau di bandara SF. Setelah lama berbincang akhirnya ketahuan kalau mas Yusuf bukan orang asing bagi saya. Kakak mas Yusuf ternyata teman kuliah waktu saya di fakultas Farmasi UGM, namanya mas Aham. Saya pernah berkunjung ke rumah orang tua mas Aham di Ambarawa saat masih sama-sama kuliah. Saya juga mengenal mbak Ika, kakak perempuan mas Yusuf yang tinggal di Jogja. Mbak Ika isteri dari mas Edhy Tri Cahyono yang sudah sangat lama saya kenal sebagai aktivis UGM. Mas Edhy ini pula yang membawa saya mengajar di kampus beliau, AMIK Kartika Yani di Yogyakarta. Jadi, mas Yusuf bukan orang asing bagi saya karena pernah saya datangi rumah orang tuanya di Ambarawa Jawa Tengah. Satu malam saya menginap di rumah Mas Yusuf. Dia akan segera menerbitkan buku yang dititipkan ke saya.

Dari San Fransisco, saya menuju Houston, Texas. Di bandara dijemput mas Nurdin. Lagi-lagi, dia bukan orang asing bagi saya. Mas Nurdin dulu semasa kuliah di UGM menjadi Takmir Masjid Mardhiyah, dimana saya sering mengisi berbagai kajian keislaman untuk mahasiswa. Mas Nurdin punya kakak lelaki namanya mas Rahman, yang adalah teman baik saya di Jogja. Mas Rahman dan isterinya, mbak Siti Syamsiyah, keduanya doktor, dan keduanya dosen Teknik Kimia UGM, keduanya aktif dalam kegiatan keislaman. Saya menginap di rumah mas Nurdin selama dua malam. Ini juga pertemuan yang tidak pernah saya duga dan tidak saya bayangkan.

Berikutnya saat di Los Angeles, bermalam di rumah mas Rejo. Subhanallah, seorang kampung asli dari Patuk Gunung Kidul, DIY. Menjadi profesional sukses di hotel berbintang lima di kota Hollywood, tempat menginap artis dan tokoh penting. Mas Rejo berkali-kali mendapatkan penghargaan utama atas prestasi kerja selama di hotel milik Sultan Brunei Darussalam. General Manager hotel mempercayakan pengaturan kegiatan penting dan tamu-tamu istimewa kepada mas Rejo. Ia dikenal oleh Michael Jackson. Britney Spears sangat mengenal mas Rejo. Robert de Niro minta dilayani mas Rejo. Bahkan Hillary Clinton mengenal baik mas Rejo. Luar biasa, saking dikenalnya mas Rejo oleh banyak artis Hollywood, akhirnya mas Rejo juga sering dikejar orang minta tanda tangannya. Tanpa sadar, dirinya ikut menjadi selebritis Hollywood. Satu malam saya menginap di rumah orang Patuk ini. Luar biasa religius mas Rejo….

Di Los Angeles juga bertemu Pakde Parjo dan Bude Parjo. Orang kampung yang tinggal di kota besar Amerika. Pakde Parjo asli dari Samigaluh, Kulon Progo Yogyakarta. Bude Parjo asli dari Kutoarjo Jawa Tengah. Pakde dan Bude Parjo mengundang saya sarapan pagi di apartemen beliau di California. Bude Parjo sangat ramah dan senang bercerita. Orangnya sangat baik hati. Banyak hal lucu saya dengar dari cerita beliau, yang sangat kental gaya dan aksen Jawa, bahkan sangat kental kultur Jawa.

Bude Parjo bercerita saat masih kerja di kampus UCLA, ia sering solat di suatu gang dalam lingkungan kampus, karena tidak ada tempat solat di kampus itu. Saat bude Parjo solat, sering didekati mahasiswa dan mahasiswi yang membisikkan di telinga beliau minta agar didoakan. “Tolong doakan saya agar lulus ujian Mam”, bisik seorang mahasiswi. “Tolong doakan ibu saya yang lagi sakit agar segera sembuh”, bisik mahasiswi yang lain lagi. Beberapa hari kemudian, para mahasiswa yang meminta didoakan mencari Bude Parjo untuk berterima kasih, karena telah lulus, karena mendapat nilai tinggi, karena ibunya sembuh dari sakit, dan lain sebagainya. Sembari mengucapkan terimakasih, para mahasiswa itu memberikan hadiah uang kepada Bude Parjo. Ada yang memberikan seratus dolar, bahkan ada yang pernah memberinya seribu dolar.

Bude Parjo juga bercerita saat ada polisi berjaga di dekat apartemennya, ia menawarkan minuman kepada polisi itu. Ketika polisi itu datang ke apartemen Bude untuk minum, ditawari makan. Ternyata dua orang polisi California itu mau makan nasi dan sayur masakan bude Parjo. Betapa senang hati Bude melihat polisi California makan nasi dan sayur bening masakannya. Ini tampak budaya yang sangat Indonesia dibawa ke California, dan ternyata banyak orang bisa memahami dan menyambutnya.

Di LA juga bertemu mbak Siti, lulusan Fakultas Peternakan UGM angkatan 1985. Berarti satu angkatan kuliah dengan saya di UGM. Berbagai cerita tentang kegiatan sekitar kampus, sangat saya kenali karena memang berada dalam lokal kampus yang sangat berdekatan. Mbak Siti dan mas Taufik, suaminya, sama-sama asli dari Sidareja Cilacap Jawa Tengah, sebuah kota yang juga sangat saya kenal karena banyak teman berasal dari Sidareja.

Berikutnya kegiatan di Vancouver, Kanada. Di kantor KJRI Vancouver, bertemu mas Agung Cahaya yang asli Wates Kulon Progo, DIY. Mas Agung sebagai salah seorang konsulat di KJRI, masih sangat muda dan tampak sangat ramah dan energik. Lulusan Fisip UGM, sehingga banyak cerita yang ketemu tentang kondisi Jogja. Isteri beliau tugas sebagai Perutusan Tetap RI di New York, sehingga mereka hidup terpisah. Dia menceritakan kenangan di Masjid Mardhiyah dekat kampus UGM, dan berbagai kegiatan di Gelanggang Mahasiswa UGM.

Ternyata dunia memang sempit. Dimana-mana, selalu ketemu orang yang dekat dengan kita. Selalu ketemu dengan teman lama, ketemu dengan orang yang pernah memiliki interaksi dan titik singgung sejarah maupun kegiatan dengan kita.

Vancouver, 14 Maret 2011

*sumber: http://cahyadi-takariawan.web.id/
*posted: pkspiyungan.blogspot.com

Comments