Sumiati .... adalah Kita

Oleh: Abdullah Haidir*
Nasib yang menimpa Sumiati, saudari kita, TKW yang harus berbaring di rumah sakit karena siksaan sadis dari majikannya dan sempat menjadi headline berita nasional, rasanya semakin melengkapi nestapa anak bangsa ini. Itu yang terungkap. Yang tidak…? hanya Allah yang Maha Tahu. Namun, dibalik itu kita seperti menemukan cermin jernih untuk mengenali ‘wajah’ bangsa ini.

Sumiati adalah wajah negeri kita, negeri dengan kekayaan alam melimpah ruah, namun rakyatnya terlunta-lunta mengais rizki di negeri orang tanpa pembelaan dan perlindungan memadai dan manusiawi.

Sumiati adalah wajah bangsa kita, bangsa dimana kebutuhan dan keluguan rakyatnya yang seharusnya diayomi dan diberi, justru menjadi kesempatan mengeruk keuntungan materi.

Sumiati adalah wajah hukum kita, hukum yang sangat sibuk membela pembunuh, koruptor dan orang-orang zalim karena mereka berpunya… adapun mereka yang terzalimi… -karena kepapaannya- cukuplah ungkapan keprihatinan dan janji-janji sebagai tanda peduli.

Sumiati adalah wajah kepedulian kita, kepedulian yang membutuhkan sebuah tragedi untuk beraksi.

Sumiati adalah wajah kepekaan kita, kepekaan yang lebih bersifat reaktif ketimbang inisiatif, lebih bersifat pasif ketimbang aktif dan lebih bersifat formalitas ketimbang solusi tuntas.

Sumiati adalah wajah harga diri kita, harga diri yang mudah dipertaruhkan dengan sejumlah uang dan kedudukan.

Sumiati adalah wajah budaya kita, budaya takut dan malu ketika benar, namun berani dan PeDe, justru ketika salah.

Sumiati adalah wajah ‘bapak-bapak’ kita…., bapak-bapak yang –ketika ‘anak-anaknya’ mengalami nestapa- mereka tetap ‘konsisten’ dapat tidur nyenyak di atas kasur empuknya, ‘rajin’ mengoleksi perhiasan mahal atau investasi masa depan lainnya, ‘sibuk’ dengan pesta sana pesta sini, ‘disiplin’ mencari peluang untuk promosi jabatan, ‘repot’ dengan acara-acara seremonial dan bla, bla, bla…lainnya.

Entah, dimana kita dapatkan sosok ‘bapak’ seperti Umar bin Khottob ra yang ‘mogok makan makanan lezat ketika rakyatnya kelaparan dan yang sangat khawatir jika ada seekor kambing (sekali lagi….. ‘kambing’) yang terpeleset di ujung negeri Irak karena jalannya belum dia perbaiki.

Sumiati adalah wajah orang-orang lemah di antara kita, mereka yang tidak pernah KKN, tidak pernah merasakan fasilitas negara, tidak pernah mangkir dari jam kantor (karena memang tidak punya kantor), tidak pernah digaji negara, sebaliknya mereka taat terhadap aturan walau terus berubah-ubah, taat membayar berbagai iuran dan pungutan baik yang berkwitansi maupun tidak, dan ta’at jika mendapat teguran atau bahkan hukuman, baik salah maupun benar. Namun ketika mereka sangat membutuhkan bantuan negara, mereka hanya mendapat jawaban ….. ‘sedang diproses’.

Pada Sumiati …. kita serasa mendapat jawaban kenapa bangsa ini selalu dirundung duka dan himpitan yang tak kunjung usai.

Rasulullah saw telah mengingatkan kita: “Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki karena adanya orang-orang lemah di antara kalian ?” (HR. Bukhori)

Saya tidak tahu…. kitakah yang harus menangisi Sumiati, atau Sumiatii yang harus menangiisi kita..?

Riyadh, Shafar 1432

*Abdullah Haidir, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) DPW PKS Arab Saudi
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Comments