
Di barak ini beliau juga bertemu dan berbincang dengan ibu-ibu dan simbah-simbah para pengungsi.
“Sinten nami ne bu….,” sapa Ustadz Luthfi dengan bahasa jawa logat jawatimuran.
---
Reporter: Rahman Hakim
Senin, 8 Nopember 2011, Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq mengunjungi beberapa wilayah pengungsian Merapi diantaranya Boyolali, Yogyakarta, Klaten dan Magelang. Tujuan kunjungan ini adalah memastikan relawan PKS memperhatikan pengungsi dan menjenguk korban Merapi di lokasi posko pengungsian.
Untuk wilayah Yogyakarta, Presiden PKS mengunjungi 2 posko yang dikelola oleh relawan PKS yaitu Posko Ponpes Daaru Hiraa dan Posko Ponpes Darush Shalihat.
Rombongan Presiden PKS tiba di Daaru Hiraa pukul 12.05 WIB. Di barak pengungsi yang menampung 470 orang ini Ustadz Luthfi disambut oleh ustadz Tulus Musthofa pengasuh pesantren mahasiswa Daaru Hiraa.
Selanjutnya beliau berkeliling dan bertemu serta berbincang dengan ibu-ibu dan simbah-simbah para pengungsi.
“Sinten nami ne bu….,” sapa Ustadz Luthfi dengan logat jawatimuran.
“Kados pundi kabaripun? Sehat lan sae sedanten….?”, lanjut Presiden PKS kelahiran Malang Jatim ini yang disambut senyum dan tawa ibu dan simbah yang disapa. Mungkin karena bahasa jawa Ustadz Luthfi terasa aneh logatnya.
Tidak sekedar menyapa, ustadz Luthfi juga menanyakan pelayanan kader PKS kepada para pengungsi disini. Apakah sudah mencukupi atau masih ada kekurangan. Beliau juga 'blusukan' meninjau dapur umum yang ada di barak Daaru Hiraa.
Ternyata, bukan saja tercukupi, para pengungsi di sini malah ‘dimanjakan’ oleh pihak pengelola. Kalau biasanya tempat pengungsian segalanya serba terbatas dan kekurangan, namun di barak Daaru Hiraa para pengungsi bahkan dapat membuat lotis. Pak Luthfi sempat mencicipi lotis yang tengah dibuat di dapur umum. Potongan aneka buah dan sambal gula merahnya menggoda Pak Luthfi, “Wah enak sekali, tapi pedas banget ndak ya…?”.
Sekira setengah satu siang Presiden PKS bertolak ke barak Ponpes Daarush Shalihat. Di barak ini ada 177 pengungsi yang berasal dari wilayah kecamatan Pakem dan Cangkringan.
Tiba pukul 12.55 WIB, rombongan Presiden PKS disambut oleh ibu Masbichah pengasuh pesantren mahasiswi Daarush Shalihat dan bapak Nur Umam selaku koordinator posko.
Di barak ini Presiden PKS bertemu dan menyapa anak-anak yang tengah ‘sekolah darurat’ dibimbing para relawan dari P2B PKS. Memang di tiap posko yang dikelola relawan PKS memiliki program Sekolah Ceria untuk anak-anak korban Merapi. Anak-anak perlu mendapat perhatian khusus terutama masalah psikologi.
Di sini pula, Presiden PKS bertemu dengan kader PKS yang turut jadi pengungsi beserta ibu bapak istri dan anak-anaknya. Ustadz Luthfi secara khusus berbincang dengan kader PKS ini untuk menguatkan hati dan mengokohkan keyakinan bahwa di setiap kesusahan pasti ada kemudahan dan hikmah yang mungkin baru kita sadari di waktu mendatang.
Hari sudah siang. Sehubungan dengan jadwal pesawat sekira pukul 18.00 via Semarang (Bandara Adisucipto Yogyakarta masih ditutup), rombongan Presiden PKS bertolak kembali pulang menuju Semarang untuk selanjutnya ke Jakarta.
*sumber: dpw-pksjogja.blogspot.com
---
posted by: pkspiyungan.blogspot.com


Comments
Post a Comment