“Alhamdulillah, pak Hasan pulang. Tadi, pas liat bapak sholat jamaah di masjid, saya langsung plong,” tutur ustadz Nahrawi yang bertamu ke rumah orangtua ane ba’da Isya semalam.
“Saya sudah bingung mencari Khotib untuk sholat Idul Adha besok. Yang sudah dijadwalkan tiba-tiba berhalangan,” lanjut Ketua Ta’mir masjid Asy-Syafiiyah desa Debong Tengah Tegal.
Bismillah, walaupun tidak sesuai dengan skeneraio awal kepulangan ke kampung halaman, permintaan itu tidak bisa ditolak. Pak ta’mir pun pulang diiringi senyum.
Sebetulnya mudik ke kampung kali ini karena diminta kakak untuk mendokumentasikan dan meliput qurban PKS Malaysia yang disalurkan untuk para simpatisan PKS dan masyarakat sekitar di desa Debong Tengah Tegal Jateng. Tahun ini kami dapat amanah 4 ekor kambing.
Berangkat dari Jogja sekira delapan pagi dan sampai di Tegal jam tiga sore Selasa kemarin (16/11). Kampung sini mengikuti kalender pemerintah sehingga idul adha hari Rabu. Saat pak ta’mir ke rumah, kebetulan ane lagi baca khutbahnya ustadz Anis Matta yang ada di facebook DPP PKS “Jalan Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja Dan Berkorban".
Visioner. Kata yang tepat mengomentari isi khutbah sekjen PKS ini. Di saat perasaan jemu, suntuk, dan perasaan tak berdaya menghinggapi pegiat da’wah menghadapi tribulasi internal dan eksternal, harus ada pengingat akan arah perjalanan ini.
Kita hanya ‘dituntut’ untuk berbuat tanpa ada kewajiban ‘berhasil’. Kitapun tidak akan dituntut Allah atas pekerjaan orang lain, tapi obyek hisab nanti adalah amal pribadi kita. Kalau toh murobbi, qiyadah, mad’u melakukan ‘penyimpangan’, itu bukan dalil bagi kita untuk meninggalkan medan amal, karena perkara amal adalah urusan kita dengan Allah, majikan kita.
Itulah yang dilakukan Kholid bin Walid kala ‘berseberangan’ dengan sang Qiyadah Umar bin Khothob. Atau bahkan kala Umar ‘bersebrangan’ dengan Rasulullah kala perjanjian Hudaibiyah. “Ngapain kita mau damai sama kafir-kafir itu? Bukankah engkau Nabi? Bukankah kita mu’min dan mereka adalah Kafir? Bukankah kita di pihak yang benar dan mereka pihak yang salah? Kenapa kita mengalah? Kenapa kita merendahkan diri kita?” cecar Umar geram yang hanya dibalas senyum Rasulullah. "Kita udah jauh-jauh dari Madinah, kaki sudah lelah, harta sudah musnah, hampir sampai tujuan kok disuruh mengalah. Yang bener aje", itu bahasa kite. Butuh dua tahun bagi Umar untuk faham kebijakan qiyadah (Rasulullah) saat Fathu Makah akhirnya terjadi dua tahun setelah perjanjian damai itu.
Khutbah ustadz Anis (usatdz ane waktu di ma’had al-ishlah STAN dulu) sangat pas buat para kader, pegiat da’wah, pemuda pengemban risalah, anak kampus, kaum intelektual, masyarakat perkotaan. Namun, yang ane hadapi untuk khutbah di kampung kali ini adalah masyarakat tradisional, kaum awam, ndeso. Agak kurang pas kalau mereka harus mencerna tentang narasi peradaban.
Khotibunnaas ‘ala qodri ‘uqulihim. Bicaralah pada manusia sesuai kadar pengetahuan mereka. Sejarah Nabi Ibrohim as sarat dengan pelajaran dan hikmah untuk semua kalangan. Tergantung dari sudut mana dan aspek apa yang akan kita gali. Lewat bantuan mbah google didapatlah ulasan perjalanan Kholilullah ini yang salah satu hikmahnya adalah … “Berbaik sangkalah kepada Allah”. Point hikmah itu diulas ustadz Ahmad Yani (PPD Khoiru Ummah) dalam salah satu khutbahnya.
Dari point itu dikembangkan jadi lima hikmah perjalanan da’wah Nabi Ibrohim as yang mudah-mudahan pas dengan kondisi jamaah:
- Berbaik sangka kepada Allah
Tidaklah Allah memerintah sesuatu kecuali kebaikan yang akan ditemukan walau kadang tidak masuk akal dan menyakitkan.
- Hidup adalah ujian
Ujian Allah disesuikan dengan kemampuan kita, ketika kita diuji Allah berarti kita dinilai Allah mampu mengatasinya, masalahnya mau atau tidak kita menerimanya dengan sabar dan ikhlas.
- Ikhtiar dan tawakal tanpa putus asa
Kisah Hajar mencari air tanpa kenal putus asa 7 kali bolak balik shofa marwa dengan rute yang sama. Sebelum akhirnya Allah memberikan zamzam.
- Pentingnya mendidik keluarga untuk taat pada Allah semata
Ismail dan Hajar mendukung Nabi Ibrohim untuk menunaikan perintah Allah menyembelih putranya. Kalau bukan anak yang sholeh dan istri yang sholihah kita tidak tahu kesudahan akhir apa dari cerita Nabi Ibrohim.
- Setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan di dunia dan akhirat
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (16:97)
Usai sholat Idul Adha yang dilaksanakan di masjid Asy-Syafi’iyah (ini nahdiyin, jadi tidak di lapangan), bapak-bapak pengurus DPRa PKS Debong Tengah (mereka bukan kader liqo) dibantu ibu-ibu PWK melaksanakan pemotongan hewan qurban yang digelar di rumah orang tua ane. Rencananya daging qurban akan dibagi untuk tetangga sekitar, ibu-ibu PWK, bapak-bapak jamaah Ta’lim Rutin PKS (TRP) DPRa Debong Tengah dan masyarakat sekitar. Mungkin dapatnya tidak banyak, tapi yang penting semua merasa, karena kita (PKS) untuk semua.
Selamat Iedul Qurban, semoga Allah menerima amal dan pengorbanan kita.
Tegal, 10 Dzulhijjah 1431
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com
“Saya sudah bingung mencari Khotib untuk sholat Idul Adha besok. Yang sudah dijadwalkan tiba-tiba berhalangan,” lanjut Ketua Ta’mir masjid Asy-Syafiiyah desa Debong Tengah Tegal.
Bismillah, walaupun tidak sesuai dengan skeneraio awal kepulangan ke kampung halaman, permintaan itu tidak bisa ditolak. Pak ta’mir pun pulang diiringi senyum.
Sebetulnya mudik ke kampung kali ini karena diminta kakak untuk mendokumentasikan dan meliput qurban PKS Malaysia yang disalurkan untuk para simpatisan PKS dan masyarakat sekitar di desa Debong Tengah Tegal Jateng. Tahun ini kami dapat amanah 4 ekor kambing.
Berangkat dari Jogja sekira delapan pagi dan sampai di Tegal jam tiga sore Selasa kemarin (16/11). Kampung sini mengikuti kalender pemerintah sehingga idul adha hari Rabu. Saat pak ta’mir ke rumah, kebetulan ane lagi baca khutbahnya ustadz Anis Matta yang ada di facebook DPP PKS “Jalan Kebangkitan Dan Kepemimpinan Itu Adalah Bekerja Dan Berkorban".
Visioner. Kata yang tepat mengomentari isi khutbah sekjen PKS ini. Di saat perasaan jemu, suntuk, dan perasaan tak berdaya menghinggapi pegiat da’wah menghadapi tribulasi internal dan eksternal, harus ada pengingat akan arah perjalanan ini.
Kita hanya ‘dituntut’ untuk berbuat tanpa ada kewajiban ‘berhasil’. Kitapun tidak akan dituntut Allah atas pekerjaan orang lain, tapi obyek hisab nanti adalah amal pribadi kita. Kalau toh murobbi, qiyadah, mad’u melakukan ‘penyimpangan’, itu bukan dalil bagi kita untuk meninggalkan medan amal, karena perkara amal adalah urusan kita dengan Allah, majikan kita.
Itulah yang dilakukan Kholid bin Walid kala ‘berseberangan’ dengan sang Qiyadah Umar bin Khothob. Atau bahkan kala Umar ‘bersebrangan’ dengan Rasulullah kala perjanjian Hudaibiyah. “Ngapain kita mau damai sama kafir-kafir itu? Bukankah engkau Nabi? Bukankah kita mu’min dan mereka adalah Kafir? Bukankah kita di pihak yang benar dan mereka pihak yang salah? Kenapa kita mengalah? Kenapa kita merendahkan diri kita?” cecar Umar geram yang hanya dibalas senyum Rasulullah. "Kita udah jauh-jauh dari Madinah, kaki sudah lelah, harta sudah musnah, hampir sampai tujuan kok disuruh mengalah. Yang bener aje", itu bahasa kite. Butuh dua tahun bagi Umar untuk faham kebijakan qiyadah (Rasulullah) saat Fathu Makah akhirnya terjadi dua tahun setelah perjanjian damai itu.
Khutbah ustadz Anis (usatdz ane waktu di ma’had al-ishlah STAN dulu) sangat pas buat para kader, pegiat da’wah, pemuda pengemban risalah, anak kampus, kaum intelektual, masyarakat perkotaan. Namun, yang ane hadapi untuk khutbah di kampung kali ini adalah masyarakat tradisional, kaum awam, ndeso. Agak kurang pas kalau mereka harus mencerna tentang narasi peradaban.
Khotibunnaas ‘ala qodri ‘uqulihim. Bicaralah pada manusia sesuai kadar pengetahuan mereka. Sejarah Nabi Ibrohim as sarat dengan pelajaran dan hikmah untuk semua kalangan. Tergantung dari sudut mana dan aspek apa yang akan kita gali. Lewat bantuan mbah google didapatlah ulasan perjalanan Kholilullah ini yang salah satu hikmahnya adalah … “Berbaik sangkalah kepada Allah”. Point hikmah itu diulas ustadz Ahmad Yani (PPD Khoiru Ummah) dalam salah satu khutbahnya.
Dari point itu dikembangkan jadi lima hikmah perjalanan da’wah Nabi Ibrohim as yang mudah-mudahan pas dengan kondisi jamaah:
- Berbaik sangka kepada Allah
Tidaklah Allah memerintah sesuatu kecuali kebaikan yang akan ditemukan walau kadang tidak masuk akal dan menyakitkan.
- Hidup adalah ujian
Ujian Allah disesuikan dengan kemampuan kita, ketika kita diuji Allah berarti kita dinilai Allah mampu mengatasinya, masalahnya mau atau tidak kita menerimanya dengan sabar dan ikhlas.
- Ikhtiar dan tawakal tanpa putus asa
Kisah Hajar mencari air tanpa kenal putus asa 7 kali bolak balik shofa marwa dengan rute yang sama. Sebelum akhirnya Allah memberikan zamzam.
- Pentingnya mendidik keluarga untuk taat pada Allah semata
Ismail dan Hajar mendukung Nabi Ibrohim untuk menunaikan perintah Allah menyembelih putranya. Kalau bukan anak yang sholeh dan istri yang sholihah kita tidak tahu kesudahan akhir apa dari cerita Nabi Ibrohim.
- Setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan di dunia dan akhirat
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (16:97)
Usai sholat Idul Adha yang dilaksanakan di masjid Asy-Syafi’iyah (ini nahdiyin, jadi tidak di lapangan), bapak-bapak pengurus DPRa PKS Debong Tengah (mereka bukan kader liqo) dibantu ibu-ibu PWK melaksanakan pemotongan hewan qurban yang digelar di rumah orang tua ane. Rencananya daging qurban akan dibagi untuk tetangga sekitar, ibu-ibu PWK, bapak-bapak jamaah Ta’lim Rutin PKS (TRP) DPRa Debong Tengah dan masyarakat sekitar. Mungkin dapatnya tidak banyak, tapi yang penting semua merasa, karena kita (PKS) untuk semua.
Selamat Iedul Qurban, semoga Allah menerima amal dan pengorbanan kita.
Tegal, 10 Dzulhijjah 1431
*posted by: pkspiyungan.blogspot.com



Comments
Post a Comment