Ada Cerita di Safari Silaturohmi Ramadhan DPRa Srimartani


by abu ali
"Kami seklrga m'ucapkn Jzkmlh khairn katsira. Semoga Allah SWT mbls kbaikn tmn2 DPRa Srmrtni dg blsn trbaik. Amien3x. Mhn doany jg smga anak kmi lekas smbuh&kmbli ke rmh. Kel.EkoYulianto"
[sms, 30/08/09 at 20.33]
---

Sudah sebelas hari bayi mungil berbobot 3,5 kg ini tergolek lemah di kotak inkubator kamar melati RSUD Gunung Kidul. Dengan sabar dan telaten pasangan akh Eko Yulianto dan ukhti Ika Riyandari menjaga putra pertamanya ini.

Bayi laki-laki yang belum sempat diberi nama ini terlahir dengan bantuan vakum besar kala pagi masih menggigil Kamis 20 Agustus kemarin. Suara tangis pertama sebagai tanda kehadirannya di bumi yang dinanti sang ibu pun tak terdengar. Seketika sang bayi dilarikan ke RSUD GK.

"Alhamdulillah, suara tangisnya sudah keluar walau masih lemah tidak sekencang bayi umumnya," cerita akh Eko kepada teman-teman DPRa Srimartani yang sore itu berkunjung ke RSUD GK.

Pasangan muda ini (Eko-Ika) memang dua-duanya aselinya berasal dari kampung mBandung Playen Gunung Kidul. Karena kerjanya di Yogyakarta maka mereka kontrak rumah di Perum GTS 2 Srimartani, Piyungan, Bantul sekira setahun yang lalu. Saat melahirkan anak pertamanya, pasangan ini memilih tinggal di kampung halaman, Playen Gunung Kidul.

Dan sore itu (Ahad, 30/8) kami bertujuh (Pak Agung, Dhanie, Haryadi, Sinyo, Eko Heri, Priyanta dan Ane) 'naik gunung' untuk bersilaturohmi. Sekira pukul 16.45 rombongan yang berkumpul di rumah pak Pri meluncur dengan Black Avanza. Sengaja kami memilih waktu sore biar sekalian ngabuburit. Jauh hari sebelumnya teman-teman yang ikut diminta untuk mengatur jadwal ceramah tarawih (kalau pas ada jadwal agar dicari penggantinya).

Setelah menempuh perjalanan tiga puluhan menit ke arah timur melintasi jalan mendaki berkelok-kelok pegunungan, kami sampai di RSUD kabupaten Gunung Kidul. Jam menunjuk angka 17.20 kala rombongan yang dipimpin Pak Agung ini memasuki gerbang RSUD. Kala kami sampai di kamar melati, terlihat sang kakek tengah menemani cucunya yang tengah 'dihangati' di kotak inkubator. Akh Eko yang mengenakan kaos orange menyambut kami dengan senyum khasnya. Kami pun menyapa Bu Ika yang berada di sampingnya.

"Nanti kalau memberi nama, dikasih nama yang ada makna 'kuatnya'. Misal Qowwiy atau Azis atau Aqwam," ujar Pak Agung yang juga naqib dari akh Eko. Teman-teman yang lain manggut-manggut dan sesekali menimpali obrolan sambil bergantian menengok sang bayi.

"Maksimal tiga orang kalau mau masuk ruang inkubator," ungkap akh Eko ketika teman-teman hendak melihat sang bayi.

Dua puluhan menit kami disana. Tidak lama karena memang sunahnya kalau menjenguk orang sakit jangan lama-lama. Yang penting doa dan kalau bisa memberi sesuatu yang bisa meringankan. Kamipun berpamitan setelah sebelunya akh Haryadi yang ditugasi memberi 'amplop' sudah menunaikan amanahnya.

Adzan maghrib tanda berbuka puasa sudah terdengar pas kami keluar dari RSUD. Pak Agung yang sehari-hari bekerja di daerah Wonosari Gunung Kidul megajak rombongan berbuka puasa di daerah alun-alun Wonosari. "Mau sate atau bebek nich?" tawar Pak Agung yang mayoritas menjawab 'bebek'.

Kamipun sampai di warung lesehan 'Rahayu' yang berada di pinggir alun-alun. Setelah menikmati teh hangat dan sambil menunggu menu utama yang masih agak lama, kami menuju Masjid Kodim GK untuk sholat Maghrib. Usai sholat maghrib, bertujuh kami menikmati bebek goreng plus tempe penyet sambil duduk lesehan melingkar. Teman-teman betul-betul menikmati sajian ini. Nasi yang sebaskom ternyata kurang hingga nambah lagi. Maklum, disamping rasa bebek yang lezat juga ada rasa lain yang menambah semangat teman-teman, yakni rasah-mbayar (alias gratis). Pak Agung yang mimpin rombongan bukan saja menjadi guide, tidak hanya yang mbawain dan mbensinin mobilnya, tapi juga sekaligus yang mentraktir rombongan hari itu. Sungguh, senja yang indah di jalan dakwah.

[to be continued. udah rada pegel nulis sejam lebih tapi cuma seberapa baris]

----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com

Comments