-----
Hujan lebat di siang bolong mengguyur untuk kali kedua kemarin Ahad (22/3). Meski banyak yang memprediksi telah tiba masa kemarau, siapa yang bisa menolak nikmat Allah SWT?
Disela sibuknya sang hujan menghidupi bumi, tim PWK (Pos Wanita Keadilan) Srimartani yang berbalut raincoat berselancar menuju bukit Kemloko. Sepanjang jalan Munggur-Kemloko menggenang air disana-sini. Karna kami ngebut, rasanya kayak surfing aja!
Sampai lokasi acara PWK, badan rasanya setengah dingin setengah basah. Tapi, banyaknya peserta yang hadir mampu mengusir hawa dingin yang terasa. Tak sia-sia kami 'bermain hujan'. Bu Jazilah (ketua PWK Kemloko) sempat menghubungi kami, kata beliau kalaupun kami (tim PWK Srimartani) tak datang tak apa-apa. Soale udane deres banget. Namun, melewatkan perjumpaan dengan ibu-ibu PWK bagi kami merupakan suatu kerugian.
Agenda kali ini adalah pelatihan bikin kripik belut nabati. Menjelang pemilu, harga belut semakin mahal (apa hubungannya ya??). Namun dengan embel-embel nabati, kali ini kami membuatnya dengan bahan yang amat murah meriah. Tak perlu nyuluh ke sawah untuk mendapatkan belutnya. Cukup petik di kebon saja. Ya, hanya diperlukan daun singkong alias godhong tello yg direbus setengah matang sebagai pengganti belut (jaoh banget ya...!)
“Mlintir dong tello-nya jangan banget-banget ya…, nanti bisa alot!” Chef Isna, kader PWK Tambalan kasih arahan.
“Beres mbak….!” koor ibu-ibu.
Begitulah, godhong tello yang sudah direbus lalu dipelintir hingga menyerupai belut (tapi nyoba berkali-kali kok gak mirip-mirip ya…?). Langkah terakhir, celup di adonan tepung lalu goring dalam minyak panas. Hmmm… baunya dah kemana-mana nich…!
Disela goring menggoring, hadir rombongan Pak Setia (caleg Propinsi DIY dari PKS) membawa 50 paket sembako murah untuk ibu-ibu PWK Kemloko. Memang, setelah pelatihan bikin belut nabati, akan dilanjutkan dengan sosialisasi pemilu dan bazaar sembako murah.
“Ibu-ibu remen mboten kaliyan PKS?” pak Setia mengawali sesi sosialisasi pemilu.
“Remen lah Pak. PKS itu ngurusi Kemloko sejak jaman gempa. Gak cuma kalo mau pemilu,” ujar seorang ibu yang di iyakan oleh teman-temannya.
“Kalo gitu PKS pantas dipilih apa nggak?”
“Pantaas….!” Koor ibu-ibu
“Nah, kalo pantas silahkan dipilih, tapi kalo nggak pantas ya jangan dipilih ya ibu-ibu…”
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com
Disela sibuknya sang hujan menghidupi bumi, tim PWK (Pos Wanita Keadilan) Srimartani yang berbalut raincoat berselancar menuju bukit Kemloko. Sepanjang jalan Munggur-Kemloko menggenang air disana-sini. Karna kami ngebut, rasanya kayak surfing aja!
Sampai lokasi acara PWK, badan rasanya setengah dingin setengah basah. Tapi, banyaknya peserta yang hadir mampu mengusir hawa dingin yang terasa. Tak sia-sia kami 'bermain hujan'. Bu Jazilah (ketua PWK Kemloko) sempat menghubungi kami, kata beliau kalaupun kami (tim PWK Srimartani) tak datang tak apa-apa. Soale udane deres banget. Namun, melewatkan perjumpaan dengan ibu-ibu PWK bagi kami merupakan suatu kerugian.
Agenda kali ini adalah pelatihan bikin kripik belut nabati. Menjelang pemilu, harga belut semakin mahal (apa hubungannya ya??). Namun dengan embel-embel nabati, kali ini kami membuatnya dengan bahan yang amat murah meriah. Tak perlu nyuluh ke sawah untuk mendapatkan belutnya. Cukup petik di kebon saja. Ya, hanya diperlukan daun singkong alias godhong tello yg direbus setengah matang sebagai pengganti belut (jaoh banget ya...!)
“Mlintir dong tello-nya jangan banget-banget ya…, nanti bisa alot!” Chef Isna, kader PWK Tambalan kasih arahan.
“Beres mbak….!” koor ibu-ibu.
Begitulah, godhong tello yang sudah direbus lalu dipelintir hingga menyerupai belut (tapi nyoba berkali-kali kok gak mirip-mirip ya…?). Langkah terakhir, celup di adonan tepung lalu goring dalam minyak panas. Hmmm… baunya dah kemana-mana nich…!
Disela goring menggoring, hadir rombongan Pak Setia (caleg Propinsi DIY dari PKS) membawa 50 paket sembako murah untuk ibu-ibu PWK Kemloko. Memang, setelah pelatihan bikin belut nabati, akan dilanjutkan dengan sosialisasi pemilu dan bazaar sembako murah.
“Ibu-ibu remen mboten kaliyan PKS?” pak Setia mengawali sesi sosialisasi pemilu.
“Remen lah Pak. PKS itu ngurusi Kemloko sejak jaman gempa. Gak cuma kalo mau pemilu,” ujar seorang ibu yang di iyakan oleh teman-temannya.
“Kalo gitu PKS pantas dipilih apa nggak?”
“Pantaas….!” Koor ibu-ibu
“Nah, kalo pantas silahkan dipilih, tapi kalo nggak pantas ya jangan dipilih ya ibu-ibu…”
----
posted by: pkspiyungan.blogspot.com


Comments
Post a Comment