By: T@niZa SyamiLAda yang berbeda dengan Musholla pribadi milik salah satu warga Payak Tengah yang kebetulan berada persis di samping rumah akhi Joni, salah satu kader DPRa PKS Srimulyo, Piyungan. Sore itu (Senin, 16/3/09) sekitar pukul 18.30 lampu teras musholla yang biasanya redup tampak begitu benderang. Sepertinya baru diganti dengan lampu yang baru sehingga cahayanya cukup menerangi arena sekitar musholla. Suasana pun terasa lebih meriah. Ane yang kala itu datang belakangan sempat terkejut karenanya. Dari ujung gang pun sudah bisa terlihat jelas ada aktivitas di sana.
Beberapa ibu sudah duduk manis di dalam musholla. Ukhti Desi bersama Ukhti Novi terlihat membersamai mereka. Mereka tengah bersiap menerima pelajaran hari itu. Pelajaran yang oleh ibu-ibu setempat disebut "Ngaji Iqro" merupakan salah satu program dari divisi kewanitaan DPRa Srimulyo. Meskipun baru berjalan sekitar satu setengah bulan, namun kegiatan tersebut intensif diadakan 3 kali dalam sepekan, yaitu setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu sore, ba'da Maghrib. Walau harus belajar mulai dari nol, mereka begitu semangat dan antusias mengikutinya. Alhasil, sejak awal bulan Februari hingga sekarang mereka sudah mengalami banyak peningkatan. Ada yang sudah sampai jilid 3, bahkan ada pula yang melejit sampai jilid 5.
Dalam hal ini, kami memerlukan mental yang kuat untuk mengajar. Butuh ekstra kesabaran dan ketelatenan, mengingat yang kami bersamai adalah ibu-ibu yang rata-rata sudah berkepala empat bahkan ada yang sudah memiliki cucu. Dari segi vokal, pelafalan mereka dalam mengucapkan huruf-huruf hijaiyah pun ada beberapa yang mengalami kesulitan untuk melafalkannya dengan benar (apalagi dengan dialek Jawa yang begitu kental). Namun mereka tidak merasa malu, minder atau ragu untuk berlatih dan terus berlatih. Bahkan tak jarang mereka menjadikannya sebagai PR dan minta diajari oleh anak atau cucu mereka di rumah. "Saya malu dengan cucu saya yang masih ingusan mbak, dia sudah bisa baca Quran sementara saya, menghafal huruf hijaiyah saja masih sulit". Ungkap salah seorang nenek (menurut ane masih kelihatan muda sich).
Salah seorang ibu (guru kesenian di salah satu SD di Piyungan) kemudian menceritakan pengalamannya ketika mengantarkan anaknya mengikuti tes seleksi masuk di salah satu SDIT di Kota Jogja. Ketika tiba giliran ibunya diwawancarai, sang anak meminta ijin untuk bermain di sekitar GOR (yang saat itu akan diresmikan). Sebelum pergi sang anak berkata "Bu, nanti kalau ibu tidak bisa jawab atau kesulitan membaca iqro-nya, ibu panggil Tata (nama anak itu) saja ya nanti Tata bantu". Rupanya anak tersebut mengira bahwa ibunya akan di-tes sama seperti dia padahal dia tahu kalau ibunya baru belajar iqro dari nol. "Terus terang saya jadi malu sekaligus bangga pada anak saya..." ujar ibu tersebut dengan mata berkaca (karna beliau memang menggunakan kaca mata.. hehehe...) dan menerawang membayangkan kembali kejadian itu. "Makanya sekarang kita harus belajar serius biar minimal kita bisa membersamai, tilawah bersama anak-anak kita di rumah. Syukur-syukur kita bisa mengajari mereka" ibu yang satu lagi menimpali. Ibunya akh Joni pun ikut menyemangati "Kalau kita belajar serius mudah-mudahan pas Bulan Ramadhan nanti kita bisa tadarus bersama di masjid sampai hatam Al-Quran. InsyaAllah nanti saya buatkan 'ingkung ayam' untuk syukuran".
Tak jarang bila pelajaran usai, kami berdiskusi tentang banyak hal seperti pendidikan, politik, bisnis, ekonomi bahkan soal rumah tangga (duh.., gayanya udah kaya orang penting aja ya..). Bagi kami yang masih akhwat jadi banyak asupan ilmu seputar kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat. Ternyata mereka sadar, betapa pentingnya pendidikan agama dalam keluarga yang harus diberikan kepada anak-anak sejak dini, bahkan ketika masih dalam kandungan. Subhanallah.....
Bila melihat semangat mereka yang begitu membara, MasyaAllah.... ane jadi merasa malu. Dengan usia yang terpaut jauh, bahkan bisa dibilang seusia dengan cucu mereka, kefuturan sering kali tak luput dari diri ini.
Ampuni hamba ya Allah...
Tetepkan hamba selalu di jalanMU...
Tanamkan selalu ghirah juang dalam jiwa hamba....
Jadikan setiap langkah dan gerak hamba hanya semata mengharap keridoanMU...
-----
Beberapa ibu sudah duduk manis di dalam musholla. Ukhti Desi bersama Ukhti Novi terlihat membersamai mereka. Mereka tengah bersiap menerima pelajaran hari itu. Pelajaran yang oleh ibu-ibu setempat disebut "Ngaji Iqro" merupakan salah satu program dari divisi kewanitaan DPRa Srimulyo. Meskipun baru berjalan sekitar satu setengah bulan, namun kegiatan tersebut intensif diadakan 3 kali dalam sepekan, yaitu setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu sore, ba'da Maghrib. Walau harus belajar mulai dari nol, mereka begitu semangat dan antusias mengikutinya. Alhasil, sejak awal bulan Februari hingga sekarang mereka sudah mengalami banyak peningkatan. Ada yang sudah sampai jilid 3, bahkan ada pula yang melejit sampai jilid 5.
Dalam hal ini, kami memerlukan mental yang kuat untuk mengajar. Butuh ekstra kesabaran dan ketelatenan, mengingat yang kami bersamai adalah ibu-ibu yang rata-rata sudah berkepala empat bahkan ada yang sudah memiliki cucu. Dari segi vokal, pelafalan mereka dalam mengucapkan huruf-huruf hijaiyah pun ada beberapa yang mengalami kesulitan untuk melafalkannya dengan benar (apalagi dengan dialek Jawa yang begitu kental). Namun mereka tidak merasa malu, minder atau ragu untuk berlatih dan terus berlatih. Bahkan tak jarang mereka menjadikannya sebagai PR dan minta diajari oleh anak atau cucu mereka di rumah. "Saya malu dengan cucu saya yang masih ingusan mbak, dia sudah bisa baca Quran sementara saya, menghafal huruf hijaiyah saja masih sulit". Ungkap salah seorang nenek (menurut ane masih kelihatan muda sich).
Salah seorang ibu (guru kesenian di salah satu SD di Piyungan) kemudian menceritakan pengalamannya ketika mengantarkan anaknya mengikuti tes seleksi masuk di salah satu SDIT di Kota Jogja. Ketika tiba giliran ibunya diwawancarai, sang anak meminta ijin untuk bermain di sekitar GOR (yang saat itu akan diresmikan). Sebelum pergi sang anak berkata "Bu, nanti kalau ibu tidak bisa jawab atau kesulitan membaca iqro-nya, ibu panggil Tata (nama anak itu) saja ya nanti Tata bantu". Rupanya anak tersebut mengira bahwa ibunya akan di-tes sama seperti dia padahal dia tahu kalau ibunya baru belajar iqro dari nol. "Terus terang saya jadi malu sekaligus bangga pada anak saya..." ujar ibu tersebut dengan mata berkaca (karna beliau memang menggunakan kaca mata.. hehehe...) dan menerawang membayangkan kembali kejadian itu. "Makanya sekarang kita harus belajar serius biar minimal kita bisa membersamai, tilawah bersama anak-anak kita di rumah. Syukur-syukur kita bisa mengajari mereka" ibu yang satu lagi menimpali. Ibunya akh Joni pun ikut menyemangati "Kalau kita belajar serius mudah-mudahan pas Bulan Ramadhan nanti kita bisa tadarus bersama di masjid sampai hatam Al-Quran. InsyaAllah nanti saya buatkan 'ingkung ayam' untuk syukuran".
Tak jarang bila pelajaran usai, kami berdiskusi tentang banyak hal seperti pendidikan, politik, bisnis, ekonomi bahkan soal rumah tangga (duh.., gayanya udah kaya orang penting aja ya..). Bagi kami yang masih akhwat jadi banyak asupan ilmu seputar kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat. Ternyata mereka sadar, betapa pentingnya pendidikan agama dalam keluarga yang harus diberikan kepada anak-anak sejak dini, bahkan ketika masih dalam kandungan. Subhanallah.....
Bila melihat semangat mereka yang begitu membara, MasyaAllah.... ane jadi merasa malu. Dengan usia yang terpaut jauh, bahkan bisa dibilang seusia dengan cucu mereka, kefuturan sering kali tak luput dari diri ini.
Ampuni hamba ya Allah...
Tetepkan hamba selalu di jalanMU...
Tanamkan selalu ghirah juang dalam jiwa hamba....
Jadikan setiap langkah dan gerak hamba hanya semata mengharap keridoanMU...
-----


Comments
Post a Comment