Perempuan di Sarang HAMAS

by Ken Sri
Konvoi? Seumur hidup, sampe segedhe ini, jan yo baru sekali ini (bareng HAMAS Ahad kemarin). Walau sejak awal aku sudah tau kalo anggota HAMAS hanya simpatisan PKS alias new comers, tapi kaget juga waktu lihat style mereka pertama kali. Tak sedikit yang bertampang sangar, beberapa menyelipkan lintingan tembako rasa cappucino di bibir. Beraneka dandanan dan gaya rambut tumplek blek saat itu. Lebih kaget lagi liat komandan HAMAS Jogja. Tampil dengan dandanan ala metal lengkap dengan sentuhan gothic (halah opo maneh kuwi...?!). Sempat bengong juga, orang PKS ada yang begituan? Tapi beberapa detik kemudian tersadar, tak ada salahnya tampilan begitu (asal momennya sesuai). Salah satunya untuk mengikis anggapan bahwa orang PKS kudu selalu tampil klimis rapi jali.

Balik lagi ke masalah konvoi. Iring-iringan konvoi HAMAS merayap teratur (dengan kecepatan 20-25 km/jam), membentuk barisan dua banjar. Jadi mirip ular jalan santai. Kepalanya adalah HARDTOP yang menyalakkan nasyid haroki.

Tak ada motor yang meraung-raung kayak suara kucing rebutan balung. Paling banter 'atraksi' klakson yang terdengar merdu dengan irama pas menyapa telinga. Itu pun tak dilakukan sepanjang jalan, hanya sesekali. Yang sering kami lakukan justru menyapa para 'penonton' yang bertebaran di tepi jalan ato orang-orang yang kebetulan duduk-duduk dimuka rumah.

“Monggo budhe. . . .”
“Monggo pakdhe. . . .”
“Ayo dek, mbak, mas. . .”

Anak-anak pun rupanya tertarik dengan aksi kami. Ada seorang anak laki yang sedang pit-pitan, spontan berteriak ketika melihat kami, “Aku melu. . .!!”, sambil memacu BMX-nya mencoba mengiringi kami.
Wah, besok kalo udah gedhe ya, HAMAS gak merekrut anak-anak je!

Sepanjang konvoi benar-benar kunikmati suasana yang damai. Betapa jauh terasa bedanya dengan konvoi-konvoi yang selalu memekakkan telinga, memenuhi jalan seenak udelnya, dan menimbulkan rasa was-was saat berpapasan dengan mereka.

Bravo HAMAS & HAMAS Girls..!!

Comments