YOGYAKARTA - Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum melalui unit kerja Yakkum Emergency Unit atau YEU, RS Bethesda, dan RS Panti Waluyo mengirimkan dua tenaga perawat senior ke Jalur Gaza. Mereka akan bergabung dengan tiga dokter dan dua perawat dari RS milik Muhammadiyah dalam tim medis gabungan antariman dari Humanitarian Forum Indonesia.Rencana keikutsertaan dua tenaga perawat senior, masing-masing bernama Heri Widiarso dan Bambang Kamiwarno, itu disampaikan Direktur YEU Arshinta kepada pers di Ruang Pimpinan RS Bethesda Yogyakarta, Rabu (28/1). ”Kami belum tahu mereka akan ditempatkan di rumah sakit mana di Palestina. Penempatan tergantung Red Cross Society di Palestina dan Jordania,” kata Arshinta.
Pengiriman tenaga perawat ini merupakan wujud solidaritas kemanusiaan dalam menanggapi kebutuhan akan tenaga medis terampil di daerah konflik. Pengiriman tenaga juga dimaksudkan untuk penjajakan kebutuhan kesehatan lebih lanjut dan menjadi tim awal pendirian RS lapangan yang direncanakan pemerintah di Jalur Gaza.
Bisa diperpanjang
Menurut Arshinta, kedua perawat senior itu akan bekerja selama dua minggu, tetapi bisa diperpanjang apabila dibutuhkan. Tim akan meninggalkan Tanah Air pada 29 Januari mendatang menuju Jordania. Di sana mereka akan bergabung dengan Palang Merah Palestina, Jordania, dan negara-negara lain.
”Kami tengah memberi mereka informasi-informasi terbaru mengenai perkembangan yang terjadi di Jalur Gaza, di samping persiapan medis. Untuk kiriman obat-obatan, telah disiapkan bersama Muhammadiyah,” kata Arshinta.
Sejak perang pecah akhir Desember 2008, sedikitnya 1.300 orang meninggal dan 5.300 lainnya luka-luka, termasuk 1.855 di antaranya anak-anak. Selain itu, 100.000 orang dilaporkan mengungsi. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 20 Januari 2009, kebutuhan mendasar masyarakat Jalur Gaza adalah obat-obatan dan kebutuhan pokok untuk bertahan hidup.
Direktur RS Bethesda Yogyakarta Sugianto mengatakan, selain dokter, dalam bidang medis yang banyak dibutuhkan adalah tenaga perawat. ”Ini karena jumlah korban yang luka-luka sangat banyak, sementara banyak rumah sakit yang rusak akibat serangan Israel,” katanya.
Buruknya kondisi di Gaza menyebabkan sistem kesehatan, terutama untuk penyakit dan gizi, menjadi terabaikan. Pelayanan laboratorium sangat terbatas akibat padamnya aliran listrik. Begitu pula dengan program vaksinasi juga terganggu sehingga memungkinkan munculnya kejadian luar biasa atas penyakit-penyakit tertentu.
-------
sumber: kompas


Comments
Post a Comment