by Delim@------------
Suatu siang, tampak seorang gadis manis berjilbab berjalan terseok menyusuri koridor sebuah kampus. Langkahnya tak sempurna, kepalanya sedikit mendongak, tangannya terangkat-angkat seirama dengan ayunan kaki. Kemudian langkahnya terhenti dimana segerombol mahasiswi dengan berbagai penampilan (ada yang tak berjilbab, ada yang berjilbab tapi cekek dipadu dengan celana model terbaru yang sedang 'in', namun ada juga wajah-wajah teduh berhias seulas senyum yang tampil bersahaja dengan jilbab lebar dan gamis longgar, manis....). Mereka duduk melingkar beralas terpal di sebuah taman.
“Aa...ssalamm...mu'alay....kkkummm...,” ucapan salam yang terbata-bata terucap dari bibir gadis itu, sebut saja Intan. Serentak mereka menjawab salam dan menyambut uluran tangan Intan lalu merangkul hangat dan membimbing untuk duduk bersama mereka. Tak lama kemudian, 'Ensiklopedia Nisa' (sebutan untuk sebuah kajian khusus putri yang diselenggarakan bidang kerohanian sebuah PTN di Jogja) yang semakin lengkap dengan hadirnya Intan siang itu, segera di mulai.
Intan, gadis yang hebat di mataku! Dia menderita Cerebral Palsy (kelainan pada otak besar), yang menyebabkan gerak motorik pada tubuh bagian kirinya tidak terkontrol. Kaki kirinya tak sama panjang dengan yang kanan dan telapaknya melengkung, sehingga tak dapat melangkah dengan normal. Begitupun tangan kirinya, kaku dan menekuk ke depan dada, sedang jari-jarinya tak dapat memegang benda apapun dengan baik. Bahu kirinya juga miring, sehingga tas ransel kesayangan tak pernah tergendong sempurna di punggungnya. Salah satu talinya pasti ‘nglewer’ di sebelah kiri. Juga wajahnya, bibir dan dagu agak tertarik ke arah kiri, yang menyebabkan bicaranya tergagap-gagap dan kata-katanya agak sulit dipahami.
Janggal dan aneh melihatnya berjalan atau bicara. Tapi itu bagi mereka yang tak pandai bersyukur apalagi mengambil pelajaran.
Lihat.... Intan yang tak sempurna fisiknya, dia selalu tersenyum ramah menyapa teman-teman yang ia jumpai, tak ada rasa minder, tak ada keluh kesah, karena dia merasa cukup dengan nikmat yang ALLOH berikan. Alhamdulillah.... Intan salah seorang penderita cerebral palsy yang tidak mengalami gangguan mental, banyak memang yang tak seberuntung dia. Intan sanggup menempuh pendidikan di sekolah umum, bukan di sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, bahkan sampai perguruan tinggi! Dosen-dosen di jurusannya bangga padanya. Bagaimana tidak, dia hampir selalu mengacungkan jari paling awal ketika dosen membuka forum diskusi pada sebuah perkuliahan. Untuk itu, dosen dan teman-temannya harus meningkatkan konsentrasi menyimak pendapatnya. Meskipun tak selalu 'good idea', namun semangat dan keberanian menjadi nilai plus untuknya. Yang repot ketika musim ujian tiba. Intan harus 'menyewa' sukarelawan sebagai 'juru tulis' nya, yang syaratnya harus dari jurusan
lain atau satu jurusan tapi belum pernah mengambil mata kuliah yang diujikan. Karena, Intan memerlukan waktu yang sangat lama untuk menulis, itu pun tidak bisa dibilang rapi. Alhamdulillah..... Ada saja teman-temannya yang dengan senang hati menjadi 'juru tulis' baginya.
Itu Intan, sebagian besar orang yang menjumpainya melayangkan vonis cacat padanya. Namun sadarkah kita? Bahwa mungkin kita lebih 'cacat' dari sekedar cacatnya seorang Intan. Hanya saja..., 'cacat-cacat' kita tersamarkan oleh kesempurnaan fisik, oleh jabatan dan posisi terhormat versi dunia!
Friends, saatnya GENERAL CHECK-UP!!


Comments
Post a Comment