Akankah Benci Berujung Cinta?

Oleh : Hida (mumtaza_ok@yahoo.co.id)
Sore itu, Pak Gedhe (pakde) saya semangat sekali menceritakan perkembangan salah satu cucunya yang sekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Kamil di Sidareja Cilacap. Bu Gedhe saya yang lebih pintar cerita beberapa kali urun cerita, hiperbola malah seperti kebanyakan perempuan bercerita.

Kebetulan sang cucu yang diceritakan sedikit mengalami keterlambatan intelektual namun diterima sebagaimana layaknya anak normal. Guru-guru SDIT sangat telaten dan sabar membimbing sang cucu, termasuk diluar jam sekolah. Bahkan beberapa kali diantar ke Psikolog di Cilacap, yang kira-kira ditempuh perjalanan satu jam. Sang cucu lebih dekat ke gurunya dibanding dengan ibunya.

Kami cukup jadi pendengar saja. Cerita ini sudah sering kami dengar dari pakdhe dan budhe acap kali kami silaturohim jika mudik.

Perlu pembaca ketahui, Pak Dhe merupakan salah satu tokoh partai berlambang kepala banteng dengan moncong putih. Dan dulu pernah berkata pada suami saya bahwa PK atau PKS hanyalah partai gurem yang tidak mungkin berkembang besar. Dan memang sejak saat itu tidak ada obrolan partai jika bertemu, karena pertemuan hanya sekejap dan masalah keluarga yang jadi tema.

Malam hari setelah kami bertemu, adik ipar saya cerita : “Pakdhe bilang: Bud, jebule sing ngajar nang TKIT karo SDIT itu PKS kabeh toh,”

Aku dan semua keluarga yang mendengar tertawa karena tahu bagaimana Pak Dhe. Sayangnya adik iparku tidak tanya besok mau pindah ke PKS apa tidak. Tapi sepertinya lebih tepat tugas kami untuk menanyakan suatu saat. PR jika kami mudik lagi.

Saya jadi teringat nasehat Imam Ali bin Abi Tholib : “cintailah kekasihmu sewajarnya dan bencilah musuhmu sewajarnya. Karena benci dapat berubah jadi cinta dan cinta dapat berubah menjadi benci.”

Comments