[pkspiyunganonline] Hasil polling Reform Institute memposisikan Menpora Adhyaksa Dault sebagai “Tokoh Pemuda Terpopuler 2007”. Popularitas Adhyaksa merupakan akibat logis dari kinerja yang ditebarkannya, selain gebrakan dan program kerja yang digeluti, dilakoni, dan ditekuninya melalui jabatan menteri yang sedang dipangkunya sekarang. Dalam diksi yang lain, Adhyaksa dinilai oleh publik (responden polling Reform Institute), mampu menunjukkan kualitasnya di lingkungan birokrasi sebagai menteri yang mampu menggerakkan pembangunan kepemudaan dan keolahragaan di Indonesia.Popularitas pada dasarnya adalah bagian dari hukum sebab-akibat dalam konteks interaksi sosial. Dalam perspektif psikososial, “popularitas” dapatlah dimaknai sebagai “akibat dari eksistensi seseorang yang menimbulkan pengaruh dan manfaat positif bahkan fenomena bagi lingkungan sosial di luar dirinya, dan karena itu mendatangkan apresiasi atau penghargaan atas eksistensi tersebut”. Dalam hubungan ini, popularitas Adhyaksa sebagai tokoh pemuda terpopuler versi Reform Institute, sesungguhnya merupakan akibat logis dari kemampuan Adhyaksa untuk membuat jabatannya sebagai menteri eksis secara riil melalui tampilan kinerjanya yang lumayan baik.
Dalam hubungan ini, “fenomena Adhyaksa” tampaknya muncul sebagai model persemaian pemimpin muda dari lingkungan birokasi. Adalah tepat intuisi kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika memberikan mandatnya kepada Adhyaksa sebagai Menpora pada tahun 2004 yang lalu. Mengacu pada hasil polling Reform Institute, tampilnya Adhyaksa sebagai tokoh pemuda terpopuler, tentulah tidak terpisahkan dari rekam-jejak (track record) Adhyaksa sendiri. Adalah baik apabila sejenak kita simak sekilas rekam jejak seorang Adhyaksa.
Dalam dunia pergerakan kepemudaan, pada era awal 1990-an, Adhyaksa dikenal sebagai elite pemuda yang kritis dari lingkungan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), saat mana dia mulai memimpin KNPI DKI Jakarta. Padahal, rezim penguasa ketika itu menuntut loyalitas tanpa reserve dari semua lembaga korporatisme negara, salah satunya adalah KNPI. Setelah terpilih sebagai Ketua Umum KNPI untuk masa kepemimpinan 1999-2002, Adhyaksa mengintrodusir pemikiran tentang pentingnya kaum muda menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan dan religiusitas yang ia terminologikan sebagai “Nasionalisme-Religius”. Penghayatan atas prinsip ideologis kebangsaan dan religiusitas ini mengacu pada karakteristik bangsa Indonesia yang majemuk, plural, dan agamis.
Kiranya boleh disebutkan bahwa rekam jejak kepemimpinannya di KNPI menunjukkan fakta bahwa Adhyaksa berhasil membawa KNPI keluar dari area transisi kritis (Baca juga: “KNPI dan Reposisi Peran Pemuda sebagai Social Category”, dalam buku Viktus Murin: Mencari Indonesia, Balada Kaum Terusir; 2005:137). Kala itu, para pegiat reformasi menuntut pembubaran KNPI karena dianggap sebagai instrumen korporatisme negara. Tuntutan pembubaran ketika itu ditujukan pula terhadap Golongan Karya (Golkar) dan berbagai instrumen sosial politik yang dianggap menjadi kepanjangan tangan rezim penguasa. Ketokohannya di KNPI membuat Adhyaksa semakin dekat dengan habitat kepemudaan, yang di kemudian hari mungkin saja mempengaruhi preferensi terhadap dirinya, sehingga ia dianggap layak untuk memangku jabatan Menpora dalam Kabinet Indonesia Bersatu (KIB).
Apabila hari-hari ini, Adhyaksa sedang memetik buah popularitas, maka sesungguhnya popularitas itu hanyalah merupakan akibat logis dari rekam-jejak yang telah ditorehkannya di tengah memori publik. Hari-hari ini, sembari menunaikan tugas-tugasnya sebagai menteri, Adhyaksa pun diminta sebagai pengajar di beberapa perguruan tinggi. Gelar doktor yang diperolehnya di bidang teknologi kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) semakin memperkaya khasanah akademisnya dalam menunaikan kegiatan akademisnya sebagai bagian dari pengabdiannya melalui dunia pendidikan demi kemaslahatan pemuda. Di tengah kesibukannya menggerakkan pembangunan kepemudaan dan keolahragaan sebagai dua pilar bangsa, Adhyaksa tampak berikhtiar untuk dapat terlibat secara serius dalam tantangan pendidikan bagi kaum muda bangsa. “Dalam pendidikan, perkembangan pikiran setapak demi setapak melangkah dari pengalaman ilmiah menuju intelektual, melangkah lagi ke perasaan spiritual, kemudian menuju Tuhan”, tutur Kahlil Gibran, pujangga tersohor kelahiran Lebanon.
------------
Banyak kalangan yang menyatakan kalau Adhyaksa Dault layak untuk diajukan sebagai calon presiden alternatif pada pilpres 2009 mendatang.


Comments
Post a Comment