Reporter: Abdul Wahid Surhim [PKS Malaysia][pkspiyunganonline] JOHOR, Malaysia. “Syarat kemenangan dakwah yang paling utama adalah walaa taniyaa fii dzikrii,” kata Ustadz UJ (Utsman Jakfar) dalam taujih mabit kader dan simpatisan PKS di Johor, Sabtu 21 Juni 2007. Tema taujih mabit kali ini adalah “Syarat-syarat kemenangan dakwah dan penghalangnya”. Ustadz UJ menguraikan tema tersebut dengan sangat menarik di hadapan sekitar 64 hadirin yang ada di Masjid Taman Sri Pulai Perdana, Johor Bahru.
Mengambil ibrah dari dakwah yang disampaikan oleh Nabiyyullah Musa as kepada Fir’aun sebagaimana diuraikan di dalam Surat Thaha, maka kemenangan dakwah itu akan tercapai bila sang du’at tidak pernah lupa untuk mengingat Allah (walaa taniyaa fii dzikrii, 20:42). Selanjutnya menggunakan komunikasi yang menyentuh hati (qaulan layyinan, 20:44) agar komunikan tersentuh dan takut kepada Allah.
Itu adalah dua hal ketika melaksanakan dakwah. Sedangkan bekalan untuk sang du’at sendiri adalah lapang dada karena akan memudahkan urusan dakwahnya (20:25-26), komunikasi yang bisa membuat faham audiens (20:27-28), dan perlunya pendukung dakwah sehingga memperteguh kekuatan dakwah dan bisa beramal jama’i (20:29-32).
Dalam taujih tersebut juga diingatkan bahwa penghalang kemenangan ada dua yang utama: lupa dan kurang azam (tekad). Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Surat Thaha ayat 115. Siapa saja yang lupa dan kurang azam, maka akan jatuh pada kemaksiatan, dan selanjutnya menjadi penghalang meraih kemenangan.
Ustadz Usman Jakfar sendiri adalah kandidat doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia dalam bidang syari’ah. Beliau tinggal di Kuala Lumpur. Secara khusus diundang oleh DPD PKS Johor untuk memberikan taujih mabit, meskipun beliau tidak bisa ikut bermalam di masjid karena harus segera meninggalkan tempat menuju pool bus. Beliau langsung kembali ke Kuala Lumpur setelah memberikan taujih.
Acara mabit didahului dengan ta’aruf peserta. Sebagian besar peserta adalah ikhwah dari Kilang (pabrik). Mereka adalah para TKI di Johor. Sebagiannya lagi adalah ikhwah yang sedang menempuh S2 dan S3 di UTM (Universiti Teknologi Malaysia). Setelah taujih, peserta disuguhi gorengan tempe dan martabak beserta cabenya. Setelah itu peserta tidur. Tentu tidur yang nyaman, karena masjid itu ber-AC. Pukul 04.00 (03.00 WIB) peserta bangun untuk melaksanakan qiyamullail berjama’ah dipimpin oleh Ustadz Azhary Jaylani. Lc. Setelah shalat shubuh, peserta mendengarkan kuliah shubuh yang menjadi acara rutin masjid tersebut. Acara diakhiri dengan sarapan nasi lemak (seperti nasi uduk).


Comments
Post a Comment